Novena-1: IDENTITAS KEKATOLIKANKU

Pengantar

Rekan-rekan muda se-Keuskupan Agung Medan yang terkasih, Yesus Tuhan kita yang kita cintai telah lebih dahulu mencintai kita satu per satu secara istimewa. Karena cinta-Nya, Ia memberikan kesempatan kepada kita untuk merayakan sukacita iman dalam hari Orang Muda se-keuskupan kita yang kita kenal dengan Keuskupan Agung Medan Youth Day (KAM YD) IV 2018 di kevikepan Aek Kanopan. Temanya adalah “Orang Muda Bergerak: Berbhinneka, Rukun, Gelora dan Aksi”

Untuk mempersiapkan diri, selain mengadakan perlombaan-perlombaan, perarakan salib, sosialisasi KAM YD IV dan persiapan-persiapan lain di paroki, kita juga akan melakukan kegiatan Katekese dan Novena, yakni sebuah aksi katekese yang dipadukan dengan doa Novena dalam satu kegiatan. Di dalamnya, terdapat sembilan topik katekse pilihan yang membantu OMK mendalami tema KAM YD IV: “Orang Muda Bergerak”. Topik-topik akan diperdalam melalui bacaan Kitab Suci dan renungan atasnya. Di dalamnya juga terdapat sembilan kali kesempatan untuk berdoa bersama, yakni mendoakan “Doa Persiapan KAM YD IV”.

Bahan Katekese dan Novena ini dibuat oleh panitia KAM YD IV. Peruntukannya adalah untuk semua OMK di KAM. Bahan ini akan menjadi pengganti bahan Doa & Ngopi yang didoakan OMK sekali seminggu untuk bulan Mei-Juni. Sedangkan peserta KAM YD IV wajib melaksanakan Katekese dan Novena ini secara sempurna. Katekese dan Novena dirancang untuk kegiatan bersama dan pribadi, maka jika peserta (atau OMK) tidak mungkin melakukannya secara bersama-sama diharapkan melakukannya secara pribadi.

Semoga Katekese dan Novena ini sungguh-sungguh mempersiapkan diri kita menyambut KAM YD IV dan kegiatan KAM YD IV berjalan lancar dan sukses. Selamat.

Novena-1

IDENTITAS KEKATOLIKANKU

  1. Nyanyian Pembuka

Cinta kasih Tuhan dasar persatuan kita

Marilah kawan kita satukan

Dalam keluarga Allah

Reff:      Marilah satukan hatimu

Dalam pengandianmu

Wartakanlah cinta kasihNya

Dalam karya dan karsa

  1. Tanda Salib & Salam
  2. Pemeriksaan Batin

P. Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita layak mengikuti ibadat ini. Hening….

P+U Saya mengaku….

  1. Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

             5. Doa Pembukaan

P       Marilah berdoa,

P       Aku mendengar suara Tuhan,

U      Inilah aku utuslah aku.

P       Tuhan hadirlah dalam batinku,

U      Terangilah budi dan hatiku.

P       Jagalah lidah dan bibirku,

U      Supaya aku dapat mewartakan SabdaMu.

P       Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus….

P+U. Amin.

  1. MENGENAL YESUS

MENGENAL GEREJA KATOLIK DAN KEKHASANNYA

Gereja Katolik memiliki sekian banyak kekhasan yang tidak dimiliki agama atau organisasi lain di dunia ini. Hal yang patut dibanggakan karena kekhasan-kekhasan ini adalah datang dari Allah sendiri dan sampai kini masih bertahan di dunia ini. Kali ini kita hanya akan melihat tiga hal.

  1. Hierarki Gereja

Makna dan sejarah singkat

Hierarki berasal dari kata Yunani: Hirarchia yang berarti Tata Kudus. Hierarki terkait dengan pelayanan dalam Gereja yang mengarah kepada Allah yang mahakudus. Hierarki menjadi tanda lahiriah yang menunjuk pada sifat Gereja sebagai institusi di dunia. Dapat pula dikatakan bahwa Hierarki lebih mirip dengan struktur keorganisasian dalam sebuah lembaga.

Apa fungsi hierarki?

Ada dua fungsi Hierarki. Pertama, fungsi sosiologis, yaitu Hierarki menjadi simbol nyata yang menunjukkan bahwa Gereja adalah institusi lahiriah yang mendunia. Dengan fungsi itu, Gereja memperoleh pengakuan dari publik sebagai lembaga yang memiliki kekuatan publik. Kedua, fungsi religius, yaitu Hierarki menjadi semacam jalan pelayanan iman umat yang mendasarkan dirinya pada iman kepada Yesus Kristus yang senantiasa membimbing GerejaNya hingga akhir zaman. Dengan kata lain, inti dari sebuah Hierarki bukanlah struktur kekuasaan tapi struktur pelayanan.

Seperti apakah struktur Hierarki dalam Gereja Katolik?

Susunan Hierarki Gereja secara formal adalah Uskup – Imam -Diakon. Mereka disebut klerus dan para pelayan tertahbis. Jadi yang termasuk dalam struktur Hierarkis Gereja hanyalah kaum tertahbis.

Kapan sistem Hierarki itu mulai berlaku?

Sistem itu mulai dikenal pada akhir abad kedua. Struktur itu muncul seiring munculnya klaim dari Gereja bahwa dirinya adalah lembaga yang terpisah dari Yudaisme. Ekaristi dipandang sebagai pengganti korban kenisah. Mereka yang memimpin Ekaristi dengan segera disebut imam meskipun pada permulaannya, hanya para uskup yang dikatakan mempersembahkan kurban.

Apakah tahbisan itu dan siapakah Uskup, Imam dan Diakon?

Uskup adalah seorang imam yang mendapatkan kepenuhan tahbisan imamat. Uskup menjadi pemimpin teritorial Gereja di wilayah tertentu. Untuk menjadi uskup, orang itu harus menjadi imam terlebih dahulu karena pada dasarnya Uskup adalah seorang imam. Uskup adalah pengganti para Rasul Kristus.

Imam adalah para pembantu uskup. Imamat mereka terbatas. Para imam tidak berwenang mentahbiskan imam baru. Hanya uskup yang berhak mentahbiskan imam.

Diakon tertahbis adalah para pembantu Uskup. Mereka berwenang membaptis orang dan memimpin sakramen pernikahan. Sakramen-sakramen lain masih belum boleh mereka terimakan hingga ditahbiskan menjadi Imam.

Tahbisan adalah suatu tindakan inderawi yang menandakan dan menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang dikhususkan untuk mengabdi Yang Kudus.

Mengapa para imam dan para religius tidak boleh menikah padahal Yesus tidak pernah secara khusus berpesan kepada para murid-Nya agar tidak menikah?

Hidup tidak menikah disebut sebagai hidup selibat. Mengenai hal ini, kita perlu membuat pembedaan antara imam dan kaum religius. Imam menjalani hidup selibat karena peraturan Gereja mewajibkannya. Sedangkan, kaum religius (suster/bruder/imam religius) menjalani hidup selibat karena secara bebas memilih sendiri cara hidup tersebut. Lewat kaul kemurnian, mereka harus menjalani hidup tidak menikah. Dengan kata lain, seandainya peraturan Gereja mengizinkan seorang imam untuk menikah, maka seorang religius tetap tidak dapat menikah karena terikat dengan kaul kemurniannya itu. Sedangkan, imam non religius dapat melepaskan diri dari kewajiban hidup selibat bila peraturan Gereja mengizinkan hal itu.

Yesus memang tidak pernah menyuruh murid-Nya untuk tidak menikah. Bahkan, Petrus pun menikah. Jika demikian, untuk apa imam dan kaum religius tetap menjalani hidup selibat? Ada dua alasan untuk itu. Pertama, untuk meniru Yesus yang tidak menikah. Kedua, karena Yesus pernah bersabda bahwa ada orang yang membuat dirinya tidak menikah karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga (lht. Mat 19:12). Sesungguhnya, tidak ada dasar biblis untuk kewajiban bagi para imam untuk tidak menikah. Bahkan, dahulu, para imam Katolik pun boleh menikah. Dalam hal ini, Paus memiliki kekuasaan penuh untuk melepaskan kewajiban itu. Hanya saja, dari pengalaman selama ratusan tahun, Gereja tetap mempertahankan kewajiban hidup selibat dengan alasan bahwa seorang imam yang tidak memiliki istri dan anak, biasanya akan lebih terlindungi dari godaan untuk memakai uang jemaat yang dipercayakan kepadanya untuk kepentingan keluarganya. Atau, dalam bahasa rasul Paulus, “Orang yang tidak beristri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan.”(lht. 1Kor 7:32).

Apa dasar peraturan dari hidup selibat?

Kewajiban selibat bagi semua imam ditetapkan oleh Gereja secara resmi dan universal dalam Konsili Lateran I dan II (tahun 1123 dan 1139). Sepanjang sejarahnya, ada beberapa alasan yang mendukung hidup selibat bagi para imam, yaitu:

  1. Imam menjalani hidup selibat untuk meneladani Kristus dan Paulus yang tidak menikah.
  2. Imam tidak menikah karena cintanya kepada Kristus dan demi Kerajaan Allah.
  3. Imam tidak menikah karena hidup selibat dan pantang kenikmatan seksual dianggap sebagai persiapan yang paling baik untuk melayani altar Tuhan.
  4. Imam tidak menikah agar harta benda Gereja jangan sampai menjadi warisan keturunannya.
  1. Peranan Kaum Awam dalam Gereja

Siapakah itu Kaum Awam?

Kaum awam adalah mereka yang tidak mendapatkan tahbisan imamat. Kaum religius yang bukan klerus, masuk ke dalam kelompok ini, seperti bruder dan suster. Dengan demikian jelas, bahwa ada dua status besar dalam Gereja, yaitu kaum klerus (kaum tertahbis) dan kaum Awam (non-tertahbis).

Berikut adalah kaum religius yang juga termasuk ke dalam golongan Awam: Frater yakni calon imam yang secara intensif mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan imamat. Novis adalah para calon biarawan/wati yang mempersiapkan diri secara intensif untuk mengucapkan kaul. Masa yang dijalani seorang novis disebut Novisiat. Postulan adalah sebutan untuk para calon biarawan/wati yang sudah mencoba hidup di dalam biara sebelum mereka diperkenankan secara resmi masuk ke masa novisiat. Aspiran adalah mereka yang ingin masuk ke suatu biara. Rahib adalah para pertapa dan para anggota ordo kontemplatif yang hidup di balik tembok. Rubiah adalah rahib perempuan. Abas adalah seorang kepala suatu biara pertapaan.

  1. Sakramen-Sakramen

Apa itu Sakramen?

Sakramen adalah tanda dan sarana yang mendatangkan rahmat Allah dan memberikan kehidupan ilahi kepada kita, yang telah ditetapkan Kristus dan dipercayakan kepada Gereja-Nya. Sakramen-sakramen yang dirayakan dengan pantas dalam iman, memberikan rahmat yang mereka nyatakan. Sakramen itu menjadi berdaya guna karena Kristus sendiri bekerja di dalamnya. Yesus sendirilah yang bertindak dalam Sakramen-sakramen-Nya untuk membagi-bagikan rahmat yang dinyatakan oleh Sakramen. Gereja sendiri mengajarkan bahwa Sakramen adalah karya penyelamatan Yesus Kristus yang dimaksudkan untuk membantu anggota Gereja dalam perjalanan iman mereka menuju kehidupan kekal.

Sakramen apa sajakah yang ada dalam Gereja Katolik?

Dalam Gereja Katolik, ada tujuh sakramen, yaitu: Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan, Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat, Sakramen Imamat, Sakramen Perkawinan, Sakramen Pengurapan orang sakit.

  1. Pertanyaan Refleksif

Fasilitator melemparkan pertanyaan-pertanyaan dan peserta memberikan tanggapan.

  1. Apakah materi tadi dapat membantu anda untuk dapat memahami tentang Identitas khas Kekatolikan kita?
  2. Apakah kekhasan katolik yang kamu tahu atau dengar dari orang lain

             8. Penegasan

Fasilitator memberi kesimpulan penegasan dari pertanyaan reflektif.

Mempraktekkan iman katolik bukanlah sekedar cara memelihara identitas kekatolikan kita dalam subkultur Katolik, dan bukan juga sarana untuk memperoleh kebaikan hati Allah, tetapi merupakan jawaban yang terus menerus terhadap kebaikan Allah. Keuntungan dari praktek iman kita tidak terbatas hanya pada umat beriman yang lain. Kita semua dipanggil untuk mewartakan injil. Kita tidak harus menulis buku atau berkhotbah, tapi cukup dengan membiarkan orang lain melihat praktek iman kita: apa arti iman bagi kita, apa arti identitas kita yang sekaligus merupakan undangan bagi mereka untuk turut ambil bagian didalamnya dan karena itu merupakan suatu berkat bagi mereka.

  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

Bacaan Kitab Suci

Pembacaan dari Surat II Rasul Paulus Kepada Jemaat di Korintus: (2 Kor 3:1-11)

PELAYAN-PELAYAN PERJANJIAN BARU

Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan. Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya.

Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh! Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran. Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti. Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan. Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian,

L   Demikianlah Sabda Tuhan.

U   Syukur Kepada Allah.

Renungan

Saudara-saudari sekalian menarik membaca perikop di atas di mana Santo Paulus membedakan pelayanan zaman Musa dengan Zaman Yesus. Santo Paulus mengagumi Nabi Musa yang penuh dengan kuasa dari Allah. Akan tetapi Santo Paulus mau lebih menonjolkan Yesus dan pelayananNya karena dia sadar dan memahami isi Kitab Suci, bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Penyelamat, kesempurnaan dari nubuat-nubuat dan perintah-perintah dalam Kitab Suci. Hal itu jelas ditegaskannya ketika dia berkata, “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Tulisan atau kotbah Santo Paulus ini tidak sulit kita mengerti, sebab dalam iman kita dapat melihat bagaimana Yesus itu menyempurnakan kesepuluh titah menjadikannya hukum kasih yang baru. Itu sebabnya Santo Paulus mengatakan bahwa mereka (dan para Rasul) adalah pelayan Perjanjian Baru yang diberi otoritas oleh Kristus sendiri. Dan dasar dari pelayanan para Rasul ialah Kasih Kristus.

Santo Paulus juga menunjukkan perbedaan antara pelayanan dalam Perjanjian Lama dengan pelayanan dalam Perjanjian Baru. Pada zaman Musa, Tuhan menuliskan dalam dua Loh Batu 10 Perintah yang harus dilakukan oleh bangsa Israel. Akan tetapi pada zaman Yesus, hukum kasih tidak dituliskan dalam loh-loh batu melainkan Yesus melakukannya tanpa pandang bulu bagi orang yang melihat tindakan itu, menyebabkan Hukum Kasih itu tertulis di dalam hatinya dan meneladaninya. Hal itu tampak jelas dalam hidup Jemaat Perdana.

Kasih kepada Allah dalam hati manusia itulah yang menyebabkan para pria terpanggil berani hidup selibat dan menerima tahbisan Imamat (Uskup, Pastor dan Diakon). Kasih itu juga menjadi dasar pendirian Sakramen-sakramen oleh Yesus agar umat beriman kepadaNya mendapat keselamatan dan hidup yang kekal bersama Allah. Itulah identitas Gereja Kita, bahwa Tuhan menata umatNya ke dalam sebuah lembaga yang kita sebut Gereja (Tubuh mistik Kristus), ada Hierarki (Uskup, Pastor, Diakon, Umat Allah) dan ada 7 Sakramen tanda dan sarana keselamatan.

  1. Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

  1. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang dalam iman kepada Kristus marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:
  2. Bagi Para pemimpin Gereja. Kami mohon….
  3. Bagi Umat Allah. Kami mohon….
  4. Bagi Mereka yang belum bertobat. Kami mohon….
  5. Bagi Kita yang berkumpul di sini. Kami mohon….

P. Ya, Bapa inilah doa-doa dan permohonan kami yang panjatkan kepadaMu dengan penuh harap dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

U      Amin.

  1. Doa menyongsong KAM Youth Day IV
  2. Nyanyian Syukur

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

                Yesus Kekasih Jiwaku

Yesus Kekasih jiwaku

Sungguh kupercaya padaMu

Karena kasih-Mu padaku, Kau tebus dosaku

Dari terbitnya matahari dan sampai terbenamnya

Kuangkat lagu pujian, tinggikan nama-Mu

Dengan gendang kupuji-kupuji dengan kecapi

Kubernyanyi Alleluya, Yesus Kekasihku

Sayang sayang disayang aku disayang Tuhan

Aku diangkat jadi anak-Nya

Aku disayang Tuhan

Glory, glory, glory puji Tuhan

Glory, glory, glory puji Tuhan….2x

  1. Doa Penutup

P. Ya Bapa, terima kasih kami ucapkan atas berkat perlindunganMu sepanjang pertemuan kami tadi, Engkaulah Allah kami yang mahabaik bagi setiap orang yang berlindung padaMu. Kini, kami kembali mengucap syukur kepadaMu karena setiap sesi dalam pertemuan kami dapat berjalan sesuai dengan kehendakMu. Semoga kami yang menerima setiap ajaran dan bimbinganMu semakin mampu untuk memahami misteri keselamatan yang Engkau wartakan melalui PuteraMu Yesus Kristus Tuhan kami. Dengan pengantaraan Kristus, PuteraMu dan Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

P+U.Amin.

  1. Perutusan

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, (+) dan Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

  1. Nyanyian Penutup (Themesong KAM YD IV)
  2. Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *