Novena-2: MILITAN & INKLUSIF

Novena-2

MILITAN & INKLUSIF

  1. Nyanyian Pembuka

Cinta kasih Tuhan dasar persatuan kita

Marilah kawan kita satukan

Dalam keluarga Allah

                Reff:      Marilah satukan hatimu

                                Dalam pengabdianmu

                                Wartakanlah cinta kasihNya

                                Dalam karya dan karsa

  1. Tanda Salib & Salam
  2. Pemeriksaan Batin

P. Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita layak mengikuti ibadat ini. Hening….

P+U. Saya mengaku….

  1. Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

              5. Doa Pembukaan

P       Bapa yang baik, kami bersyukur karena bisa berkumpul kembali pada Novena hari kedua ini. Kami hendak berduskusi tentang semangat hidup menggereja kami. Semoga RohMu menuntun dan membimbing kami agar setiap pesan yang Kau sampaikan meresap dalam hati kami. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan meraja bersama Dikau dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

U    Amin.

  1. MENGENAL YESUS

OMK YANG MILITAN DAN INKLUSIF

  1. Militansi dan Inklusifisme

Arti Militan

“Militan” berarti bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras. Berhaluan keras dalam artian ini (positif) berarti teguh dalam nilai kebaikan moral dan imannya. Orang Muda Katolik (OMK) militan diartikan, “Orang Muda Katolik bersemangat tinggi, penuh gairah, bertekad keras untuk berakar dan dibangun dalam Kristus, menjadi misionaris di antara teman sebaya, pewarta dialog dan pelaku kebaikan dengan sikap maupun perilaku, bersemangat dalam ibadah, bersemangat pula dalam karya nyata.” Tentu saja, idealisme atau nilai luhur ini harus kita pegang, baik oleh kita yang bertindak sebagai Pembina maupun oleh seorang atau sekelompok orang muda yang beriman Katolik.

Militan: Berpusat pada Yesus Kristus

Dialog antara Simon Petrus dengan Yesus Kristus yang bangkit dalam Injil Yohanes 19:15-19 harus menjadi dialog pula antara OMK dengan Kristus. Pertanyaan Yesus kepada Simon Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” juga petanyaan terhadap OMK. Ini bukanlah pertanyaan retorika, melainkan pertanyaan yang memerlukan jawaban pribadi. OMK harus bisa mengalami Yesus Kristus yang mengasihinya dan karenanya berani menjawab secara pribadi, seperti diajarkan Gereja, bahwa orang Katolik mengasihi Yesus Kristus lebih dari segalanya. Keberpusatan pada Kristus bagi OMK mutlak harus selalu di dalam komunitas dan Gereja Katolik. Tanpa Gereja Kristus, kita tidak akan kuat mewartakan Injil. Kita membutuhkan Paus, para Uskup, para kudus. Kita pun berpusat dalam Salib Kristus dalam Gereja-Nya yang bersama-sama mengemban perutusan ini.

Arti Inklusif

Inklusif berasal dari Bahasa Inggris inclusive yang artinya “termasuk di dalamnya”. Secara istilah berarti menempatkan dirinya ke dalam cara pandang orang lain/kelompok lain dalam melihat dunia, dengan kata lain berusaha menggunakan sudut pandang orang lain atau kelompok lain dalam memahami masalah.

Dalam perkembangannya istilah tersebut meluas digunakan untuk membangun sikap dalam beragama sehingga melahirkan pluralisme beragama (semua agama memiliki kebenaran yang sama) karena dilatarbelakangi konflik-konflik agama. Sikap inklusif cenderung memandang positif perbedaan yang ada, sedangkan sikap eksklusif cenderung memandang negatif perbedaan tersebut. Dampak memandang positif perbedaan adalah memunculkan dorongan/motivasi untuk mempelajari perbedaan tersebut dan mencari sisi-sisi universalnya guna memperoleh manfaat yang menunjang hidup/cita-citanya.

Sikap Inklusif yang Dikembangkan

Kebutuhan individu dan bermasyarakat bersifat luas seiring dengan perkembangan zaman. Kerjasama dengan individu atau kelompok lain menjadi keniscayaan. Prinsip bersikap inklusif muncul karena adanya kebutuhan bekerjasama untuk mencapai cita-cita, titik tolaknya adalah memandang sisi positif perbedaan sehingga mendorong usaha-usaha untuk mempelajari perbedaan dan menarik sisi-sisi universal yang mungkin bernilai positif dan menunjang cita-cita/misi pembangunan masyarakat. Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk mengembangkan sikap inklusif:

  • Menyadari bahwa setiap orang atau kelompok di masyarakat memiliki potensi mencapai kebenaran, sehingga tidak menghindari primordialisme yang berlebihan terhadap keunggulan dirinya dan kelompoknya, setiap orang atau kelompok juga memiliki sisi kelemahan yang membutuhkan kerjasama dengan orang atau kelompok lain.
  • Mengakui adanya aspek-aspek universal yang mungkin bernilai positif pada orang lain/kelompok lain yang berbeda pandangan (aliran) agama untuk menunjang tercapainya cita-cita/misi pembangunan masyarakat.
  • Menumbuhkan jiwa sportif dalam bersosialisasi dan hidup bersama dengan orang lain/kelompok lain, sehingga terdorong untuk mengelola perbedaan secara etis atau mengembangkan kompetisi yang sehat meskipun memiliki pandangan dan cara hidup yang berbeda.
  • Membiasakan berkomunikasi dengan sehat, tidak semata-mata didasari persepsi yang sempit dan kacamata kuda, melainkan berdasarkan pengamatan dan pengertian terhadap perbedaan yang ada.
  1. OMK Yang Membangun Karakter Pribadi

Karakter, watak, tabiat, kepribadian, atau perilaku adalah identitas unik seseorang, yang tak dapat dibangun atau diubah dalam sehari. Diperlukan waktu yang panjang untuk membangun dan membentuk karakter seseorang. Membangun karakter yang baik adalah keinginan setiap orang, namun seringkali kesadaran akan hal ini baru muncul setelah karakter itu terbentuk sehingga menjadi sulit untuk diubah menjadi karakter lain yang lebih sesuai kehendak hatinya. Masa muda adalah masa pembentukan karakter. Pada masa ini orang dewasa memegang peran sentral dalam pembentukan karakter kita OMK, karena akan membuat OMK tumbuh menjadi tangguh dalam menghadapi tantangan hidup yang kompleks.

Karakter adalah Cermin keseharian

Sama seperti badan jasmani kita, karakter pun butuh “pakaian”. Tetapi sekali pun berpakaian, tetap saja tidak dapat ditutupi kalau kita bertubuh gemuk atau kurus-kering. Begitu pula karakter kita, selalu nampak dalam perilaku kita sehari-hari. Karakter akan muncul di saat kita berkata-kata, bersikap atau pun berbuat.

  1. Paham Oikumene (ekumene)

Istilah Oikumene

Oikumene sebenarnya sebuah istilah dalam bahasa Yunani, oikos yang berarti: rumah, tempat tinggal; sedangkan menein berarti: tinggal atau berdiam. Pada awalnya kata Oikumene sama sekali tidak ada hubungan atau bersangkut paut dengan Gereja. Karena yang dimaksud dengan kata Yunani ini adalah dunia yang didiami dalam pengertian politis. Jadi istilah Oikumene sebenarnya berasal dari suasana politik, lalu dipindahkan ke dalam situasi Gereja.

Gereja Katolik memiliki pandangannya tersendiri terhadap oikumene yang membantu kita untuk mengerti apa sebenarnya ekumene itu, dan bagaimana ekumene itu dilaksanakan, serta apa manfaatnya. Oikumene dimengerti sebagai suatu sikap iman yang mendorong Gereja-gereja untuk berjalan bersama-sama pada satu jalan dan arah yang sama. Pada hakekatnya Gereja itu sudah satu dalam Kristus yang adalah kepala Gereja. Pemahaman ini masih bersifat umum, untuk itu selanjutnya perlu penelahaan lebih khusus dari perspektif Alkitab.

Tentang  Ekumene dan Ekumenisme

Untuk umat Kristen ekumene mendapat pengertian yang  umum dan resmi, misalnya; dalam hubungan dengan konsili. Konsili Ekumenis adalah konsili yang diadakan oleh seluruh Gereja. Sejak abad ke-20, ‘ekumene’ mendapat arti sedunia, universal, lalu arti yang menyangkut persatuan Kristiani.

Ekumenisme adalah usaha Gereja-gereja Kristen (Protestan, Ortodoks dan Katolik) untuk membangun persatuan nyata di antara para pendukung ekumene. Gereja-gereja Protestan (dan Ortodoks) mengkoordinasikan usaha di antara mereka dalam Dewan Gereja-gereja (Council of Churches) pada tingkat nasional dan internasional (sejak 1948). Memajukan ekumenisme adalah kewajiban setiap orang Kristen. Sebab, perpecahan dalam umat Kristen bukan hanya skandal, melainkan juga bertentangan dengan kehendak Kristus, yang menginginkan semua muridNya bersatu (bdk. Yoh. 17: 11, dst).

  1. Pertanyaan Refleksif

Fasilitator melemparkan pertanyaan-pertanyaan dan peserta memberikan tanggapan.

  1. Apa tanggapan anda setelah mendengar penjelasan di atas?
  2. Apakah materi tadi dapat membantu anda untuk dapat memahami tentang arti militan dan inklusif remaja yang berkarakter, beriman dan memiliki paham oikumene?
  3. Bagaimana itu Paham oikumene dalam Gereja Katolik?
  1. Penegasan

Fasilitator memberi kesimpulan penegasan dari pertanyaan reflektif.

Tuhan Yesus menginginkan semua Umat-Nya bersatu. Dalam situasi yang majemuk: keberagaman agama, suku, ras dan budaya kita harus bersatu. Kesatuan kita, dapat dicapai dengan memahami secara benar makna Militan dan inklusif. Dari paham itu, kita menuju ekumene yang positif, di mana semua orang saling mengasihi sesuai dengan kehendak Kristus.

  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

Bacaan Kitab Suci

Pembacaan dari Injil Yohanes: (Yoh 17:1a, 17-23)

Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:  Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

L   Demikianlah Injil Tuhan.

U  Terpujilah Kristus.

Renungan

Sahabat-sahabat muda terkasih. Injil di atas selalu kita dengar pada masa paskah. Meskipun isinya adalah sebuah doa kepada Bapa, pesannya jelas: agar umatNya menjadi satu. Doa Yesus memang dikhususkan bagi para muridNya pada masa itu dan untuk masa sesudahnya. Akan tetapi dalam ajaran Yesus kita tahu bahwa kita manaruh kasih juga kepada setiap orang termasuk yang bukan pengikut Kristus.

Allah menciptakan dunia dalam satu kesatuan yang indah dan teratur. Karena dunia adalah satu kesatuan maka manusia tidak boleh bertindak semena-mena terhadap alam semesta. Manusia juga tidak berhak semena-mena terhadap sesamanya. Mengapa demikian? Apa bila manusia merusak bumi, maka manusia itu bunuh diri. Apabila manusia semena-mena terhadap sesama maka manusia akan menjadi serigala bagi sesamanya. Betapa buruk hidup seperti itu.

Kita menginginkan hidup yang damai, rukun dan adil. Kebanyakan orang mendambakannya. Akan tetapi pluralisme yang ada dalam dunia ini kerap menjadi penghalang kesatuan dan terciptanya damai dan keadilan. Banyak kelompok mengklaim bahwa mereka satu-satunya yang benar dan mendapat ilham khusus dari Allah. Bisa saja benar, akan tetapi harus dikritisi, sebagai Sang Pencipta, apakah Allah mengilhamkan hal-hal yang bertentangan dengan diriNya? Apakah Allah “mengilhami” orang-orang tertentu untuk merusak kerajaanNya? Rasanya tidak benar.

Orang-orang mengatakan bahwa Allah itu maharahim, mahakasih, mahapenyayang. Lalu jika Allah maharahim (Rahim adalah tempat janin ditenun dan dilindungi Allah) apakah Allah menginginkan dunia yang tidak aman? Jika Allah mahakasih apakah Allah mengilhamkan pembunuhan? Sekali lagi tidak mungkin. Itu muslihat setan.

Keinginan Allah ialah kesatuan, keteraturan, kedamaian dan keadilan bagi seluruh dunia. Maka itu orang muda katolik harus benar-benar paham arti Militan dan inklusif. Hidup militan itu seperti Yesus. Hidup inklusif itu seperti Yesus. Hidup ekumenis itu seperti Yesus. Semua hal takarannya ialah seperti Yesus. Titik. Militan berarti memiliki dasar-dasar iman yang kuat dan mendalam nyata dalam tindak-tanduknya. Inklusif berarti fanatisme positif: bertahan pada imannya tetapi mampu menerima wahyu Allah dalam budaya atau agama lainnya dan tidak bertentangan dengan imannya. Dikatakan di atas masuk ke dalam sudut pandang orang lain (secara posotif: bukan ikut mengimani melainkan mengakui kebenaran yang ada di dalam sudut pandang itu).

Sudut pandang kita tetap sama seperti sudut pandang Yesus. Jadi bukan dicampuraduk. Pengakuan terhadap yang lain itu penting. Bagi kita penting bahwa kita diakui sebagai OMK, sebagai pemuda Indonesia, sebagai masyarakat dunia sebagai ahli waris Gereja, Negara dan dunia. Sekali lagi lihat posisinya di mana dikatakan militan-inklusif-eikumenis. Jelas saat ketiga kata itu muncul pasti pada situasi dan waktu berbeda. Maka harus ditanya, bilamana aku harus militan? Bilamana aku harus inklusif dan bilamana aku harus eikumenis? Jawabannya menjadi seperti Yesus. Apakah kamu ingat Maria Magdalena? Apakah kamu ingat perempuan Samaria di sumur? Apakah kamu ingat perjamuan di Kana? Apakah kamu ingat perempuan Siropenesia yang sakit pendarahan? Jika kamu masih ingat, maka ingatlah menjadi seperti Yesus. Di situ tampak jelas militansi-Nya, inklusif-Nya dan ekikumenis-Nya. Maka memang harus menjadi seperti Yesus.

  1. Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

  1. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang dalam iman kepada Kristus marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:
  2. Bagi Kesatuan Gereja-gereja di dunia. Kami mohon….
  3.  Bagi Orang Muda Katolik. Kami mohon…..
  4.  Bagi Para Missionaris. Kami mohon…..
  5. Bagi Kita yang berkumpul di sini. Kami mohon…..

P. Ya, Bapa inilah doa-doa dan permohonan kami yang panjatkan kepadaMu dengan penuh harap dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami.

U      Amin.

  1. Doa Menyongsong KAM Youth Day IV
  2. Nyanyian Syukur

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

                Burung Pipit Yang Kecil (PS 680)

                Burung pipit yang kecil dikasihi Tuhan

                Terlebih diriku dikasihi Tuhan

                Bunga bakung di padang diberi keindahan

                Terlebih diriku dikasihi Tuhan

                Burung yang besar kecil bunga indah warnanya

                Satu tak terlupa oleh penciptanya.

  1. Doa Penutup

P. Ya Bapa, kami memujiMu karena kebaikanMu di dalam hidup kami. Ajarilah kami agar dalam menghayati iman kepadaMu, kami tidak lupa mengasihi sesama kami dalam perbedaan agama, suku dan budaya. Semoga kami menjadi pembawa kasih bagi semua orang, agar Engaku dimuliakan dalam hidup kami. Dengan pengantaraan Kristus, PuteraMu dan Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

P+U. Amin.

  1. Perutusan

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, (+) dan Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

            15. Nyanyian Penutup (Themesong)

            16. Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *