Novena-5: RUKUN DAN DAMAI ANTAR UMAT BERAGAMA

Novena-5

  1. Nyanyian Pembuka

Aku Dengar Bisikan Suaramu

Aku dengar bisikan suaraMu

menggema lembut di dalam batinku

sungguh engkau sahabatKu

jikalau engkau menaati perintah-Ku

Reff: Pergilah dan sebarkanlah kabar sukacitaku

          Sampai akhir jaman Aku sertamu

Bukanlah engkau yang memilihKu,

Melainkan Aku yang memilihmu

Kini Aku serahkan tugas

Supaya engkau menghasilkan buah limpah

 Reff…

  1. Tanda Salib & Salam
  2. Pemeriksaan Batin

Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita dilayakkan Allah mengikuti ibadat ini. Hening….

Saya mengaku….

             4. Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

Amin.

            5. Doa Pembukaan

P       Marilah berdoa,

P       Aku mendengar suara Tuhan,

U      Inilah aku utuslah aku.

P       Tuhan hadirlah dalam batinku,

U      Terangilah budi dan hatiku.

P       Jagalah lidah dan bibirku,

U      Supaya aku dapat mewartakan SabdaMu.

P       Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U      Seperti pada permulaan…

P+U.Amin.

  1. MENGENAL YESUS

RUKUN DAN DAMAI ANTAR UMAT BERAGAMA

Manusia adalah mahluk yang unik. Ia terlahir dengan segala atribut yang ia terima secara langsung bahkan meskipun ia tidak suka. Ia terlahir dengan budaya, lingkungan, keluarga yang ia sendiri tidak dapat memilihnya. Keunikan manusia satu dengan yang lainnya menjadi dasar adanya perbedaan. Dalam dan dengan perbedaan itulah manusia hidup di dunia. Karena itu manusia sudah seharusnya memahami dengan benar perbedaan tersebut dalam berelasi, bertutur kata dan bersikap di tengah-tengah dunia.

Perbedaan tidaklah seharusnya membuat manusia terpecah dan saling bermusuhan. Perbedaan seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk dapat saling menerima dan menghargai. Ironisnya sejumlah masalah dewasa ini justru dipicu dari ketidakmampuan manusia untuk menerima perbedaan yang ada. Perbedaan dijadikan alat penghancur dan pengacau yang membuat sebuah situasi runyam dan kadang tidak terkendali. Kenyataan inilah yang mendesak kita untuk memperjuangkan kerukunan di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan kita.

Menerima dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang memperkaya dan dapat mendukung kehidupan kita adalah hal mendasar yang harus kita lakukan. Perdamaian di antara masyarakat dan lingkungan kita hanya akan dapat tercipta ketika kita mampu menerima keragaman dan perbedaan tersebut dengan baik. Kenyataan iman yang berbeda hendaknya menjadikan kita semakin mampu menghayati dan mempraktekkannya dengan baik dalam kehidupan kita. Kita harus dapat menerima, menghargai dan menghormati tetangga, teman sekantor, masyarakat dan lingkungan yang memang berbeda baik suku, agama dan ras dengan kita. Dengan demikian akan tercipta kerukunan yang menghasilkan damai, ketentraman dan kenyamanan dalam diri, masyarakat dan lingkungan kita. Ketika kerukunan tercipta maka pertikaian, pertentangan, kekacauan, keberpihakan, tidak akan timbul. Perbedaan tidak menjadi pemecah belah di antara kita.

Hidup dalam keberagaman memang tidak mudah. Selalu ada saja pihak tertentu yang menjadikan keberagaman sebagai alat untuk memecah belah dan membuat kekacauan di sekitar kita. Perkembangan zaman yang semakin maju memudahkan pihak tertentu untuk menebar berita-berita buruk atau bohong (hoax) dan ujaran kebencian terhadap suku, agama, ras dan orang tertentu. Situasi ini menuntut kita agar kita tidak gampang terpengaruh. Kita harus mengetahui terlebih dahulu kebenarannya dan jangan langsung secara frontal melawan berita atau ujaran kebencian tersebut. Dan lagi, sebuah generalisasi yang tergesa-gesa sebagai suatu kesalahan berpikir juga wajib dihindari. Tidak selamanya sesuatu yang dibungkus daun itu pasti lapet atau cimpa.

Hal lain yang dapat dilakukan untuk memahami perbedaan dan keragaman secara benar adalah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ekumenis, dialog antar-agama dan kegiatan lintas budaya. Kegiatan kegiatan seperti ini sangat mendorong lahirnya kerukunan di tengah-tengah kita. Kegiatan seperti itu janganlah kiranya dihindari, melainkan dipupuk agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Jangan kita menganggap kegiatan seperti ini sebagai sebuah jalan untuk saling mempengaruhi antar keyakinan atau agama, melainkan sebagai sebuah kerjasama yang melahirkan kerukunan.

Secara tegas, Konsili Vatikan II memandang Gereja sebagai communio, sebagai persekutuan, yang berdasarkan pada persekutuan Allah Tritunggal sendiri. Persekutuan yang berdasar pada persekutuan Allah Tritunggal itu terwujud dalam persekutuan gereja-gereja setempat. Sementara itu, dalam Kristus, Gereja dipahami sebagai “sakramen”, yaitu “tanda dan sarana persekutuan mesra antara umat manusia dengan Allah dan dengan sesama manusia” (LG 1). Dengan demikian, Konsili Vatikan II memahami persekutuan Gereja berdasar pada persekutuan Allah dan berdasar persekutuan dengan sesama manusia.

Pendasaran gerakan ekumenis dalam Gereja Katolik membawa kita kepada sebuah persatuan. Persatuan tidak dimaksudkan sebagai satu seperti yang kita mengerti, melainkan persatuan dalam perbedaan. Kita mampu melihat hal-hal baik dalam perbedaan itu dan berusaha mencari sebuah sarana atau kegiatan yang mampu untuk mempersatukan keragaman dan perbedaan itu tanpa harus mengingkari iman dan kepercayaan kita. Dalam kegiatan ekumenis, kita tetap berada dalam iman kepercayaan kita masing-masing dan mempertahankannya meskipun dalam kegiatan itu ada keyakinan dan iman yang berbeda dengan kita.

Kerjasama juga dapat dilakukan antarumat beragama. Hubungan antara agama satu dengan penganut agama lain tidak dilarang, kecuali bekerjasama dalam persoalan iman dan peribadatan. Persoalan tersebut merupakan hak intern umat beragama yang tidak boleh dicampuri pihak lain. Tetapi aspek sosial kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerjasama yang baik. Kerjasama antar umat beragama merupakan bagian dari hubungan sosial antar manusia yang tidak dilarang dalam ajaran agama. Hubungan dan kerjasama dalam bidang-bidang ekonomi, politik maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan.

Kerja sama antar-umat beragama merupakan bagian dari hubungan sosial antar manusia yang tidak dilarang dalam semua ajaran agama. Hubungan dan kerja sama dalam bidang-bidang ekonomi, politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan. Dari sudut pandang itulah kita sebagai umat manusia yang menganut agama yang berbeda dapat membentuk suatu kerjasama yang baik untuk masyarakat, bangsa dan negara.

  1. Pertanyaan Refleksi

Fasilitator melemparkan pertanyaan-pertanyaan dan peserta memberikan tanggapan.

  1. Apa yang kita perbuat untuk meretas setiap perbedaan?
  2. Bagaimana praktek dalam kehidupan sehari-hari yang kita lakukan agar tercipta kerukunan antar umat beragama?
  1. Penegasan

Fasilitator memberi kesimpulan penegasan dari pertanyaan refleksif.

Kerja sama antar umat beragama merupakan bagian dari hubungan sosial antar manusia yang tidak dilarang dalam semua ajaran agama. Hubungan dan kerja sama dalam bidang-bidang ekonomi, politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan. Dari sudut pandang itulah kita sebagai umat manusia yang menganut agama yang berbeda dapat membentuk suatu kerjasama yang baik untuk masyarakat, bangsa dan negara.

  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

         Bacaan Kitab Suci

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Efesus (Efesus 4:31-32)

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Renungan

Hidup menjadi seorang Katolik dengan Kasih sebagai hukum utama dan terutama tentulah tidak mudah. Berhadapan dengan perbedaan-perbedaan yang ada di luar diri, tentulah perbuatan kasih akan selalu mendapat tantangan baik dari dalam maupun dari luar diri sendiri. Masih segar dalam ingatan bagaimana kegiatan bakti sosial umat katolik Gereja St. Paulus Yogyakarta dibubarkan karena dianggap kristenisasi. Belum lagi dalam lingkup internal, ketika seseorang bertutur kata ramah, penuh kasih seperti yang diajarkan Yesus, maka tidak jarang orang tersebut akan dianggap sok baik, sok ramah, sok kudus dan munafik.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus dihadapkan pada situasi ancaman terjadinya perpecahan umat. Untuk itulah ia menulis surat dan menasihatkan seluruh umat agar membuang segala sifat-sifat yang berpotensi menghasilkan perpecahan dan intoleransi. Sifat-sifat tersebut disebutkan oleh Rasul Paulus satu per satu yakni kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. Seorang pengikut Kristus haruslah membuang sifat-sifat tersebut jauh-jauh karena semuanya itu adalah kejahatan yang harus dihindarkan.

Sebagai solusi berhadapan dengan perbedaan dan untuk mencapai suatu kerukunan maka Paulus mengajak seluruh Jemaat untuk bersikap ramah, penuh kasih dan saling mengampuni. Paulus menilai bahwa ketiga sikap tersebut akan mampu menciptakan kerukunan dan persaudaraan baik itu dalam lingkup internal jemaat maupun dalam lingkup eksternal berhadapan dengan keanekaragaman. Semoga. Amin!

  1. Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:

  1. Bagi sesama OMK di seluruh dunia. Kami mohon….
  2. Bagi Gereja di Asia. Kami mohon….
  3. Bagi OMK KAM. Kami mohon….
  4. Bagi Kita yang berkumpul di sini. Kami mohon….

Ya Allah Bapa kami demikianlah doa permohonan anak-anakmu yang kami haturkan kepadaMu dengan pengantaraan Kristus Puteramu.

            11. Doa menyongsong KAM Youth Day IV

            12. Nyanyian Syukur

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

Yesus Kekasih Jiwaku

Yesus Kekasih jiwaku

Sungguh kupercaya pada-Mu

Karena kasih-Mu padaku, Kau tebus dosaku

Dari terbitnya matahari dan sampai terbenamnya

Kuangkat lagu pujian, tinggikan nama-Mu

Dengan gendang kupuji-kupuji dengan kecapi

Kubernyanyi Alleluya, Yesus Kekasihku

Sayang sayang disayang aku disayang Tuhan

Aku diangkat jadi anak-Nya

Aku disayang Tuhan

Glory, glory, glory puji Tuhan 3x

  1. Doa Penutup

Marilah berdoa, Ya Allah terimakasih atas berkatMu yang Engkau limpahkan kepada kami selama ini. Kami, melalui pertemuan ini semakin mengerti bahwa Engkau selalu menyediakan sarana-sarana berkat kepada kami melalui Gereja-Mu yang kudus. Tambahkan Rohmu kepada kami agar kami semakin giat mendekatkan diri kepada-Mu dan Gereja-Mu. Demi Yesus Kristus Tuhan kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

P+U. Amin.

  1. Perutusan

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

            15. Nyanyian Penutup (Themesong)

            16. Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *