Novena-6: PATRIOTISME OMK BERCIRI KATOLIK

Novena-6

PATRIOTISME OMK BERCIRI KATOLIK

(Belajar beriman seperti MGR. Albertus Soegijopranata)

  1. Nyanyian Pembuka

Bangun pemudi pemuda Indonesia

Tangan bajumu singsingkan untuk negara

Masa yang akan datang kewajibanmu lah

Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas

Tak usah banyak bicara trus kerja keras

Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih

Bertingkah laku halus hai putra negri

Bertingkah laku halus hai putra negri

  1. Tanda Salib & Salam
  2. Pemeriksaan Batin

P. Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita layak mengikuti ibadat ini. Hening….

P+U. Saya mengaku….

  1. Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

  1. Doa Pembukaan

P       Allah Bapa yang Mahakuasa, kami bersyukur atas anugerah dan rahmat-Mu yang menghadirkan kami di bumi Indonesia ini. Kami mensyukuri keberagaman suku, budaya, dan ras yang membuat warna yang bervariasi dalam kehidupan kami dalam berbangsa dan bernegara. Semoga kami dapat menjadi orang muda yang nasionalis dan patriotis dengan menjungjung tinggi nilai-nilai kekatolikan. Semoga kami dapat menjaga kebhinekaan ini dengan cinta persaudaraan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.

P+U Amin.

  1. MENGENAL YESUS

PATRIOTISME OMK BERCIRI KATOLIK

“Jika kita benar-benar Katolik sejati sekaligus kita juga patriot sejati. Karenanya kita adalah 100% patriot, karena kita adalah 100% katolik.” “Bapak-bapak dan ibu-ibu, didiklah anak-anakmu secara Katolik dan Nasional agar tetap lestari, berkembang dalam hal rohani dan jasmani, dengan memperhatikan agama dan kebangsaannya agar tetap teratur siap melaksanakan tugas rohani dan tugas umum lainya sebagaimana mestinya. Gemblenglah mereka dengan teladan perkataan dan tindakan kalian agar mereka memiliki watak dan kepribadian yang kokoh, dan teguh sehingga mampu menghadapi dan menanggung segala kesulitan dan tipu daya mana pun yang akan menghancurkan warisan bangsa dan leluhur kita. Juga agar mereka berani melawan segala usaha yang akan merusak sopan santun dan tata susila juga membongkar berbagai fitnah yang menyepelekan watak satria, tulus dan sederhana.” (Surat Kegembalaan Februari 1956)

“Semoga dari rumah tangga katolik, yang betul-betul merupakan sumber hidup, sumber pendidikan, sumber kebahagiaan dan penghibur, menyumbangkan anak-anaknya sebagai pemimpin-pemimpin dan tenaga putera-puteri yang mampu membimbing golongannya menjadi golongan yang boleh dibanggakan oleh bangsa Indonesia.”(Pembukaan Kongres Pemuda Katolik).

Yang diperhatikan oleh masyarakat kita adalah apakah Gereja Katolik beserta umatnya itu ada gunanya, berdaya guna untuk negara dan Rakyat Indonesia? Apakah umat katolik Indonesia memiliki keberanian yang tangguh untuk turut mengisi kemerdekaan yang telah berhasil dijangkau dengan tata tentram dan kemakmuran baik jasmani maupun rohani?”

Ungkapan di atas merupakan pesan yang dilontarkan seorang pahlawan nasional Mgr. Albertus Soegijapranata kelahiran Surakarta 25 November 1896 dan meninggal di Belanda 22 Juli 1963. Kiprah Uskup pribumi ini memiliki peran sentral dalam mendirikan tonggak sejarah Indonesia. Kisah tokoh ini pastinya akan menggelitiki nurani kita Orang Muda Katolik. Beliau adalah Uskup bagi seluruh bangsa Indonesia, karena patriotisme dan keberaniannya mempertahankan hak agama dan juga membela serta mempertahankan hak Negara dari para penjajah. Beliau tampil dari akar minoritas untuk mewujudkan kewajibannya sebagai seorang Katolik 100 % dan Indonesia 100 % untuk mempertahankan hak agama bagi semua dan hak Negara.

“Penggal dulu kepala saya, baru tuan bisa menggunakan gereja ini sebagai markas”, ini merupakan bahasa iman dan naluri martiria seorang  Mgr. Soegijapranata di hadapan tentara Jepang. Bahasa tanpa keraguan ini  menjadi senjata dan anak panah yang cukup tajam untuk melawan penjajah demi mempertahankan keutuhan NKRI dan kebersamaan semua agama. Slogan 100 % Katolik, 100 % Indonesia, tidak hanya menjadi slogan bibir belaka, tetapi ditunjukan dalam tindakan nyata yang berani di hadapan tentara Jepang. Beriman ala Mgr Soegijapranata tidak hanya tinggal pada level ayat-ayat emas namun sampai pada aksi misioner seorang saksi Kristus.

Patriotisme berciri katolik yang ditunjukkan Mgr. Soegijapranata menjadi pijakan bagi kita semua khususnya Orang Muda Katolik yang selalu menggemakan bahkan berlindung dibawah payung slogan 100 % Katolik, 100 % Indonesia. Mgr. Soegijapranata, secara fisik memang telah tiada. Namun spiritnya nyata hadir dan menembus seluruh denyut nadi hidup kita. Verba movent, exempla trahunt (Kata-kata menggerakkan, keteladanan menarik), kata-kata atau slogannya 100 % katolik, 100 % Indonesia kiranya menggerakkan kita namun lebih jauh spirit dan keteladanannya haruslah menarik kita untuk berbuat lebih bagi bangsa dan gereja. Menjadi seorang yang sungguh Katolik, harus siap dan berani menjadi seorang patriotisme dan bukan sekedar patriotisme selfie.

Di tengah hiruk pikuk sentimen agama dan radikalisme yang mendera bangsa, isu SARA yang kian menjamur, berita hoax yang semakin mendiskreditkan agama kita, kita tidak lagi meneriakan hak-hak kita sebagai umat Katolik, tetapi lebih jauh harus melaksanakan kewajiban kita untuk membela kemanusiaan kendati berbeda bangsa, suku, bahasa, budaya, asal usul dan agama.  Janganlah kita hanya menghitung-hitung atau mempertanyakan apa yang telah diperbuat Gereja dan bangsa untuk kita orang muda. Mari bertanya apa sikap patriot kita untuk bangsa? Apa nilai kekatolikan yang sudah kita gariskan di tengah peradaban bangsa ini? Sudahkah kita menjadi agen-agen perubahan untuk bangsa dan gereja kita? Semoga keteladanan Mgr Soegijapranata selalu menggelitiki urat nadi kita.

  1. Pertanyaan Refleksif

Fasilitator melemparkan pertanyaan-pertanyaan dan peserta memberikan tanggapan.

  1. Bagaimana kesan anda dengan kisah dan kiprah Mgr Soegijapranata?
  2. Apa teladan Mgr Soegijapranata yang dapat kita terapkan dalam konteks negara kita sekarang?
  3. Apa yang kita buat untuk menjadi OMK yang patriotis berciri Katolik pada masa kini?
  1. Penegasan

Fasilitator memberi kesimpulan penegasan dari pertanyaan reflektif                  

100% Katolik, 100% Indonesia secara kuantitas merupakan angka yang cukup, atau bahkan sangat besar. Angka ini merujuk pada arti sebuah totalitas dan loyalitas kita kepada bangsa dan negara sebagaimana teladan Mgr Soegijapranata. Menjadi nasionalis Katolik atau seorang Katolik yang tetap berpegang pada identitas nasional berarti harus memiliki komitmen yakni pemusatan perhatian dan kontribusi tanpa terhalang oleh kondisi waktu. Artinya dalam kesempatan waktu yang dimiliki, walaupun terbatas, tetap bisa memberikan kontribusi secara maksimal.

  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

Bacaan Kitab Suci

Pembacaan dari Injil Matius 22:15-21

Sekali peristiwa orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka Ia lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada Yesus. Maka Yesus bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

P. Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus bersifat menjebak layaknya memakan buah simalakama, karena jawabannya akan serba salah. Bila Yesus mengatakan “ya” (wajib membayar pajak kepada Kaisar) dengan mudah ini menjadi senjata kaum Farisi untuk menyatakan bahwa Yesus sang Guru, tidak patut menjadi guru Taurat, karena pro penjajah dan bukan sebagai orang Yahudi sejati yang cinta bangsa dan tanah airnya. Bila Yesus mengatakan “tidak”, hal ini juga akan menjadi catatan hitam terhadap Yesus. Ungkapan itu menjadi bukti yang mengalamatkan Yesus sebagai provocator anti Roma dan pantas diciduk dan dihukum. Dengan demikian Yesus kehilangan popularitasnya serta kehilangan pengikutnya yang sudah semakin banyak. Tetapi ternyata Yesus lepas dari ‘lubang jarum’.

Kata “Kaisar” merupakan icon kekuasaan negara Romawi. Dalam konteks kita Indonesia saat ini, “Kaisar” adalah lambang pemerintah negeri kita tercinta, Indonesia. Kita diminta menjadi warga negara yang baik dan patuh terhadap tata aturan berbangsa dan bernegara “Tunduklah karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik” (1 Ptr 2:13-14). Hal ini ingin menegaskan kepada kita OMK bahwa sebagai warga negara, sudah semestinya berusaha menjadi orang Indonesia 100%.

Kata kepada Allah adalah icon iman kekatolikan kita. “Sebab inilah kehendak Allah, Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja” (1 Ptr 2:15,16-17). Hal ini menegaskan kepada kita OMK bahwa kita harus menghayati iman kita sehingga kita menjadi “orang Katolik 100%.”

Dengan penjelasan kata kepada Kaisar dan kata kepada Allah di atas sebenarnya demikianlah juga paham “100% Katolik” dan “100% Indonesia”. Menjadi total dalam angka penuh 100 % sesuai teladan Mgr Soegijapranata merupakan panggilan untuk kita orang muda menjadi garam dan terang pada masa kini. Menjadi OMK yang memiliki sifat seperti garam, yaitu dapat larut ke dalam substansi yang lebih besar, namun tetap menjaga sifat garam itu sendiri dalam setiap bagian substansi tersebut. Hal ini berarti, kita sebagai OMK bisa larut atau melebur dalam lingkup masyarakat dan negara yang luas dan penuh keanekaragaman namun sudah menjadi keharusan kita untuk tidak menghilangkan substansi nilai katolisitas kita. Hal inilah yang sebenarnya diterapkan oleh Mgr. Soegijapranata.

Menjadi terang atau cahaya berarti Orang Muda Katolik dipanggil menjadi penuntun di saat gelap, atau pemuda/pemudi yang bisa diandalkan dalam penentuan arah. Arah bangsa ini di tangan orang muda, arah Gereja di tangan Orang Muda Katolik, maka OMK memiliki tanggungjawab yang berat untuk menentukan arah masa depan Gereja dan bangsa. Ungkapan “100% Katolik 100% Indonesia” menjadi permenungan bagi kita OMK bagaimana menyikapi iman sebagai umat Katolik tanpa mengabaikan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia, juga sebaliknya. Sikap patriotisme OMK bukan lagi keharusan untuk berperang, merebut kemerdekaan namun OMK dipanggil untuk bersaksi di tengah bangsa ini dengan perbuatan baik. Sikap patriot juga dapat ditampilkan dengan pewarta kabar suka cita bukan menjadi pewarta berita hoax. Sikap patriot dapat ditampilkan dengan mencintai perbedaaan, menjungjung kebersamaan dan cinta kasih bukan menjadi penyebar isu SARA. Singkatnya marilah kita sebagai OMK menjadi pembawa solusi bukan pembawa masalah untuk bangsa ini.

  1. Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P       Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah, Penyelamat kita, Ia alfa dan omega.

  1.  Bagi Pemuda/Pemudi Indonesia. Kami mohon….
  2.  Bagi Negara Kesatuan Indonesia. Kami mohon….
  3.  Bagi OMK KAM. Kami mohon….
  4. Bagi Kita yang berkumpul di sini. Kami mohon….

P       Ya Allah bapa kami demikianlah doa yang kami sampaikan kehadapan-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin

  1. Doa menyongsong KAM Youth Day IV
  2. Nyanyian Persembahan

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan

               Terimakasih Seribu

Surya bersinar udara segar, terima kasih

di tepi pantai ombak berderai, terima kasih

Reff: T’rima kasih seribu (o t’rima kasih seribu)

         pada Tuhan Allahku (o pada Tuhan Allahku)

         aku bahagia karna dicinta terima kasih

Hati manusia pandai mencinta, terima kasih

setiap waktu bisik hatiku, terima kasih  -Reff

  1. Doa Penutup

P. Bapa Surgawi, Engkau memanggil kami Orang Muda Katolik untuk bersikap patriot dengan membawakan ciri kekatolikan. Kami mohon kepada-Mu berikanlah kami rahmat kekuatan agar menjadi agen-agen perubahan yang membawa keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Ingatkanlah untuk tetap mengabdi kepada bangsa ini sebagai bukti pengabdian kami kepada-Mu. Berikanlah hikmat kepada kami untuk menjadi Orang Muda yang beriman cerdas, militan dan misioner. Doa ini kami mohonkan kepadaMu Bapa dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

P+U. Amin.

  1. Perutusan

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

             15. Nyanyian Penutup (Themesong)

             16. Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *