Novena-7: PENDIDIKAN SOSIAL POLITIK DAN KEBANGSAAN

Novena-7

PENDIDIKAN SOSIAL POLITIK DAN KEBANGSAAN

  1. Nyanyian Pembuka

Aku Tetap Bergembira (PS No. 1016)

Aku tetap bergembira melaksanakan tugasku

Dalam suka dalam duka tetap akan kukerjakan

       Ref: Aku dipanggil Tuhanku,

                Aku dipilih Tuhanku membawa kabar gembira

                Bagi orang miskin papa

Aku ingat sabda Tuhan yang mengatakan padaku

Dikaulah garam dunia dikaulah terang dunia, Ref..

  1. Tanda Salib & Salam

P. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U. Amin

P. Tuhan berserta kita

U. Sekarang dan selama-lamanya

  1. Pemeriksaan Batin

Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita dilayakkan Allah mengikuti ibadat ini. Hening….

P       Saya mengaku….

  1. Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

  1. Doa Pembukaan

P. Allah Bapa Yang Maha Pengasih, dalam diri Putera-Mu, Engkau memanggil setiap orang untuk memancarkan kasih-Mu dan mewartakan keselamatan. Bantulah kami agar dapat mengemban salib pewartaan yang Engkau anugerahkan ini, demi kepentingan Gereja dan bangsa kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang bersama Engkau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin

             6. MENGENAL YESUS

PENDIDIKAN SOSIAL POLITIK DAN KEBANGSAAN

A. Jenis Politik dan Sejarah Politik

             a. Sejarah Politik

Sejarah perpolitikan di Indonesia dibagi ke dalam 5 zaman:

  1. Masa Prakolonial. Perpolitikan di Indonesia sudah dimulai sejak jaman kerajaan Majapahit kuno, di mana saat itu sistem perpolitikannya ialah monarki.
  2. Masa Kolonial. Perpolitikan masa ini diwarnai dengan devide et impera, yakni politik pecah belah, dimana bangsa Indonesia diadu antara kelompok yang satu dengan yang lainnya dan terjadi pengkotak-kotakan. Partai yang pertama kali lahir pada masa ini adalah Partai Hindia Belanda (Indiche Partij).
  3. Masa Orde Lama. Perpolitikan pada masa ini ditandai dan diawali dengan kemerdekaan NKRI dan Soekarno–Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia. Sistem perpolitikan adalah sistem demokrasi dan demokrasi terpimpin ataupun presidensil.
  4. Masa Orde Baru. Perpolitikan ditandai dengan lengsernya Presiden Soekarno yang digantikan oleh Presiden Soeharto. Adapun sistem perpolitikan adalah kediktatoran.
  5. Masa Orde Reformasi. Orde Reformasi dimulai pada tahun 1998 di mana terjadi krisis moneter dan kerusuhan di Indonesia dan lengsernya Presiden Soeharto yang telah menjabat selah lebih dari 32 tahun. Orde ini masih berjalan hingga sekarang dan sistem perpolitikan yang dianut hingga sekarang ialah Republik.

            b. Jenis Politik

Jenis politik berdasarkan sistem sebagai berikut:

  1. Absolutisme: Sistem politik di mana tidak ada batasan hukum, kebiasaan, atau moral atau kekuasaan pemerintah. Sifat utama dari bentuk pemerintahan ini adalah dengan pemusatan kekuatan, kontrol kelompok sosial yang ketat, sehingga tidak adanya partai politik sebagai pesaing dan perwakilan rakyat menjadi oposisi.
  2. Anarkisme: Sistem politik yang bertentangan dengan semua bentuk pemerintahan. Para anarkis percaya bahwa dengan pencapaian tertinggi umat manusia adalah kebebasan individu untuk mengekspresikan dirinya, tidak terbatas pada bentuk kontrol apapun. Namun salah satu batasan atas kebabasan itu adalah larangan melukai orang lain.
  3. Koalisi: Kombinasi sementara kelompok atau individu yang dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu melalui tindakan bersama. Pemerintahan yang terbentuk pada dasarnya terbiasa mendistribusikan pos-pos politik untuk mewakili seluruh anggota koalisi.
  4. Persemakmuran (commonwealth): Sistem terdiri dari rakyat satu komunitas yang terorganisasi secara politis dan bersifat independen atau semi independen, dimana pemerintah berfungsi berdasarkan persetujuan rakyat.
  5. Komunisme: Komunis dapat menciptakan masyarakat tanpa kelas yang kaya dan bebas, dimana semua orang menikmati status sosial dan ekonomi. Dalam pratiknya, rezim komunis mengambil bentuk pemerintah otoriter dan memaksa (coercive).
  6. Demokrasi: Sistem politik di mana rakyat suatu negara memerintah melalui bentuk pemerintahan yang mereka pilih. Dalam demokrasi modern, otoritas tertinggi dilakukan oleh perwakilan yang dipilih oleh rakyat.
  7. Despotisme: Sistem di mana terdapat penguasa absolut yang tidak dibatasi oleh proses konstitusional atas hukum apapun.
  8. Kediktatoran: Bentuk kediktatoran di masa modern adalah pemerintahan negara di tangan satu orang.
  9. Totalitarianisme: Sistem politik dan ideologi di mana semua aktivitas sosial, ekonomi budaya, politik, intelektual dan spiritual tunduk pada tujuan pemimpin sebuah negara. Negara-negara totaliter modern dipimpin oleh seseorang pemimpin atau diktator yang mengotrol partai politik.
  10. Fasisme: Ideologi politik modern yang berupaya menciptakan kembali kehidupan sosial, ekonomi dan budaya sebuah negara berdasarkan rasa kebangsaan atau identitas etnis.
  11. Federalisme: Sistem politik nasional atau internasional dimana dua tingkat pemerintah mengontrol wilayah dan warga negara yang sama. Unit poltik yang lebih kecil menyerahkan beberapa kekuasaan politik mereka kepada pemerintah pusat, demi kebaikan bersama.
  12. Monarki: Sistem dimana seseorang memilih hak keturunan untuk memimpin sebagai kepala negara seumur hidupnya. Kekuasaan monarki bervariasi dari absolut hingga sangat terbatas. Monarki meliputi penguasa, seperti raja dan ratu, kaisar, dan sultan.
  13. Perwakilan: Sistem dimana posisi eksekutif, legislatif, dan yudikatif dapat dipilih melalui suara rakyat. Di Indonesia dan Amerika Serikat ada pengecualian, yaitu prinsip yang sama diterapkan pula untuk posisi eksekutif dan yudikatif: presiden adalah perwakilan langsung rakyat.
  14. Republik: Sistem yang didasarkan pada konsep bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, yang mendelegasikan kekuasaan untuk memimpin atas nama rakyat, untuk memiliki perwakilan dan pejabat negara.
  15. Sosialisme: Sistem yang menuntut kepemilikan negara dan kontrol sarana produksi yang menguasai hajat hidup dan pemerataan kemakmuran. Sistem sosialisme dicirikan oleh nasionalisasi sumber daya alam, industri besar, fasilitas perbankan dan kredir, serta hak milik publik.
  16. Theokrasi: Sistem politik sebuah negara di mana Tuhan dianggap sebagai satu-satunya kedaulatan dan hukum kerajaan dipandang sebagai perintah Tuhan.
  17. Pemerintahan dunia: Konsep organisasi politik global terpusat dan merupakan aturan hukum bersama yang menciptakan tatanan internasional dan mendorong perdamaian.

B. Wawasan Politik

               a. Ormas Katolik

Sebelum tahun 2002, sudah ada beberapa ormas yang menggunakan nama Katolik di Indonesia, dan sebelumnya pernah ada Partai Katolik yang kemudian dibubarkan. Ada beberapa ormas seperti:

  1. Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI)

Organisasi Kemasyarakatan ditujukan untuk menyuarakan suara perempuan sekaligus juga merupakan wadah pendidikan politik bagi wanita Katolik Indonesia.

  1. Pemuda Katolik

Organisasi Kemasyarakatan sebagai wadah pendidikan politik bagi pemuda/i Indonesia yang berumur 18–40 tahun.

  1. Perhimpunan Mahasiswa Katolik (PMKRI)

Organisasi Kemasyarakatan sebagai wadah pendidikan dan pengkaderan bagi mahasiswa/i Indonesia.

  1. Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).

Organisasi Kemasyarakatan sebagai wadah pembinaan bagi para sarjana/cendikiawan Katolik.

  1. Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI).

Sebuah organisasi yang dideklarasikan menggunakan nama “Katolik” pada tahun 1998 yakni Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI). Ormas-ormas Katolik di atas terbentuk sebelum tahun 2002 di Indonesia, maka secara hirarkhis keberadaannya diakui sebagai ormas Katolik dan Rumah Bersama untuk FMKI. Nama Katolik di sana lebih merujuk pada “mereka sebagai bagian dari Umat Katolik” yang berusaha mewujudkan tugas perutusannya secara pribadi dalam bentuk organisasi kemasyarakatan. Visi dan Misi mereka tidak boleh berbicara soal iman dan moral. Iman dan moral merupakan sesuatu yang telah menjadi landasan dibalik pergerakan mereka. Terdorong oleh mereka telah menjadi Katolik (mengakar ke dalam) ingin menunjukkan kualitas pribadi mereka kepada dunia (keluar mewartakan) dalam bentuk kebersamaan dalam wadah organisasi kemasyarakatan.

              b. Struktur Politik di Indonesia

Menurut kewenangan konstitusional dan UUD 1945 adalah sebagai berikut:

  1. MPR
  2. DPR
  3. DPD
  4. Presiden dan Wakil Presiden
  5. Badan Pemeriksa Keuangan
  6. Mahkamah Agung
  7. Mahkamah Konstitusi
  8. Komisi Yudisial

Berdasarkan TRIAS POLITIKA maka lembaga di atas dapat dikategorikan ke dalam 3 kekuasaan:

  1. Legislatif (pembuat undang-undang) : MPR, DPR dan DPD
  2. Eksekutif (pelaksana peraturan perundang–undangan dan penyelenggara pemerintahan) : Persiden dan Wakil Presiden.
  3. Yudikatif (kekuasaan kehakiman) : Badan Pemeriksa Keuangan, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial

               c. Kabinet Indonesia Sekarang

Kabinet Indonesia sekarang adalah Kabinet Kerja yang berasal dari kalangan profesional usulan partai pendukung Presiden yang terdiri dari: 34 menteri, 8 pejabat setingkat menteri, dan 3 wakil menteri.

             C. Pandangan Gereja Katolik terhadap Politik

Lumen Gentium (LG) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah awam ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam, biarawan dan biarawati (definisi tipologis). Dalam artikel ini ditekankan bahwa ciri khas keutamaan kaum awam adalah sifat keduniaannya. Para imam lebih disebutkan pada ciri khas mereka sebagai pelayan suci. Keikutsertaan Kaum Awam dalam perutusan Gereja telah disebutkan dalam Apostolicam Actuositatem. Tentu saja perutusan ini mengacu pada tugas Gereja yang telah diterima saat mereka dibaptis. Azas dan spiritualitas peran awam dapat kita simpulkan bahwa tidak ada hubungannya dengan ajaran iman dan moral, tetapi di dalam mereka, iman dan moral yang telah ditanamkan oleh para pejabat Gereja harus berbuah dan ditunjukkan secara nyata dalam keterlibatan mereka dalam hubungan sosial, hukum dan politik.

Politisi Katolik harus mempelajari ajaran sosial Gereja, membaca ensiklik-ensiklik penting yang dikeluarkan Paus Yohannes Paulus II seperti:

  • Laborem Exercens (tentang perburuhan),

Kerja manusia tidak bertujuan untuk memperoleh penghasilan saja, tetapi mempunyai martabat khusus. Kerja manusia mengambil bagian dalam martabat pribadi dan panggilan Kristianinya.

  • Solliditudo Rei Socialis

Kewajiban dalam dimensi sosial politik. Absudirtas perdagangan senjata.

  • Centesimus Annus

Enksiklik yang memperingati ensiklik ajaran sosial Gereja, Paus Leo XIII 1891, dimana isinya adalah

  • Akar konflik sosial
  • Memahami manusia
  • Kebebasan dan masyarakat
  • Prinsip negara dan masyarakat
  • Jaringan Solidaritas
  • Ajaran Sosial Gereja dalam Dialog
  • Solidaritas berangkat dari Kasih
  • Ekologi Manusia dan Keluarga
  • Mengatasi Individualisme
  • Seruan untuk bersatu
  • Batas kesejahteraan Negara
  • Politik sebagai Agama
  • Peluang Kesejahteraan yang lebih baik
  • Bahaya ketidakpedulian
  • Bahaya kerja

  • Rerum Novarum

Ensiklik sosial pertama mengenai hak kepemilikan, penolakan terhadap perang antar kelas, hak-hak golongan lemah dan martabat orang miskin, mengenai hak para pekerja untuk mendirikan serikat buruh. Pengetahuan tentang ajaran sosial Gereja ini menjadi modal bagi politisi Katolik untuk menjadi saksi di tengah dunia. Adalah sebuah kejanggalan bila seorang politisi mengaku sebagai politisi Katolik, tetapi tidak mengetahui ajaran Gereja tentang politik. Oleh karena itu, pengetahuan tentang ajaran sosial Gereja harus telah dimiliki sebelum terjun ke dunia politik. Politisi Katolik harus berpegang penuh pada tujuh prinsip etika politik Katolik. Prinsip-prinsip tersebut adalah:

  1. Prinsip kebaikan hati, yaitu, menolak kebencian, berpihak pada kehidupan (penolakan terhadap abortus, penolakan hukuman mati).
  2. Prinsip kesejahteraan umum (Bonum Commune), yakni, tidak melakukan korupsi tetapi memperkuat habitus anti korupsi.
  3. Prinsip subsidiaritas, yakni, memperhatikan hak lingkungan lebih kecil atas otonominya.
  4. Prinsip solidaritas, yakni, berpihak pada kaum miskin, lemah dan para penderita (option for the poor) dan mewujudkan keadilan sosial seperti juga diamanatkan oleh Pancasila sebagai dasar bernegara di Republik Indonesia.
  5. Prinsip hormat terhadap hak-hak asasi manusia, yakni, memperjuangkan agar hukum dan kebijakan politik tidak boleh melanggar hak-hak asasi manusia.
  6. Prinsip menolak kekerasan karena kekerasan tidak menjadi sarana dalam mencapai tujuan.
  7. Menghargai prinsip demokrasi dalam segala sisinya baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya secara bertanggungjawab sebagai penghormatan terhadap kehendak umum.

              7. Pertanyaan Refleksif

Fasilitator melemparkan pertanyaan-pertanyaan dan peserta memberikan tanggapan.

  1. Menurut saudara/i, apakah iman kita cukup ditampakkan dengan hanya berbuat di seputar altar Gereja saja?
  2. Apa hal yang mesti kita perjuangkan bagi diri kita, Gereja dan bangsa?

               8. Penegasan

Fasilitator memberi kesimpulan penegasan dari pertanyaan refleksif.

Politisi Katolik dan Awam Katolik yang terlibat dalam Organisasi Kemasyarakatan harus memahami perbedaan tanggung jawab politik antara kaum awam dan hirarki. Hirarki berperan dan bertanggung jawab dalam tata penggembalaan Umat Allah. Maka hirarki mempunyai tugas memberikan kekuatan, dorongan dan inspirasi iman kepada umat Allah, sesuai dengan martabatnya dalam tugas dan perutusan masing-masing. Panggilan perutusan kaum awam bukan dari Gereja, melainkan dari Kristus (Allah), yang telah diterima pada saat seseorang dibaptis.

Awam dipanggil untuk mengemban tri tugas Kristus, yaitu sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Atas dasar ini, maka sesungguhnya kaum awam Katolik yang terlibat dalam politik praktis dan organisasi kemasyarakatan secara terikat untuk mempertanggungjawabkan keterlibatannya kepada Kristus, bukan kepada Gereja

                9. BERJUMPA DENGAN YESUS

Bacaan Kitab Suci

Pembacaan dari Injil Markus (Mrk 10: 41-45; 16:15-16)

Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan   bagi banyak orang.” Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Renungan

Ada Seorang anak kecil bertanya pada ayahnya; “Ayah, dapatkah kau jelaskan apakah politik itu?” Ayah berkata,”Nak, aku akan menjelaskan seperti ini: Aku adalah pencari nafkah bagi keluarga, jadi sebutlah aku KAPITALISME. Ibumu, dia adalah pengatur keuangan, sehingga kita sebut dia PEMERINTAH. Kami disini untuk memenuhi kebutuhanmu, sehingga kau kita sebut RAKYAT. Bibi Pembantu, kita anggap sebagai BURUH. Sekarang adikmu yang masih bayi, kita sebut dia MASA DEPAN. Sekarang pikirkanlah hal ini dan pertimbangkanlah, apakah ini masuk akal bagimu?”

Anak tersebut masuk ke kamarnya dan memikirkan apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Tengah malam, dia mendengar adiknya menangis, lalu dia bangun dan memeriksanya, dan dia menemukan adiknya basah kuyup dan kotor karena adiknya pipis dan buang air besar. Anak itu lantas pergi ke kamar orang tuanya, dan melihat ibunya sedang tidur nyenyak sambil mendengkur. Dia tak ingin membangunkan ibunya. Karenanya, ia pergi ke kamar pembantu. Pintunya terkunci. Dia mengintip dari lubang kunci, dan alamaaakk! Dia melihat ayahnya ada di kamar pembantu. Dia menyerah dan kembali ke kamarnya. Pagi harinya, anak kecil itu berkata pada ayahnya;

“Kurasa sekarang aku mengerti apa itu Politik.” Ayah menjawab, “Bagus, Nak. Ceritakan padaku pendapatmu tentang politik.” Si anak segera menjawab, “Ketika Kapitalisme sedang memanfaatkan Buruh dan Pemerintah sedang tidur pulas, Rakyat hanya bisa menonton dan bingung melihat Masa Depan berada dalam kesulitan besar. Maaf, Ayah. Aku terpaksa menggunakan ‘Bahasa Politik’ karena tidak ingin mengecewakan Pemerintah.”

Rekan-rekan OMK, analogi Politik dalam anekdot di atas menunjukkan ke permukaan realitas politik dalam negara kita. Di zaman modern ini, kata politik bukan lagi kata yang jarang didengar oleh masyarakat. Apalagi di masa reformasi yang semakin menunjukkan banyak terjadi penyimpangan dalam bidang politik. Jadi tidaklah mengherankan apabila banyak hal yang terjadi di dunia ini dihubungkan dengan politik. Ada begitu banyak respon dan tanggapan dari berbagai kalangan yang berbeda, termasuk menurut kita orang Katolik.

Cukup banyak kita orang Katolik, termasuk kita OMK yang takut atau antipati terhadap politik. Hal ini terjadi akibat image negatif dari politik yang dianggap tempat iblis atau lingkaran setan. Adanya konsep pemikiran seperti ini timbul karena kita  tidak memahami esensi dan makna politik dengan benar. Kita harus sadar mau tidak mau masyarakat, khususnya kita OMK pasti dihadapkan dengan masalah politik.

Yang perlu kita sadari sekarang ini adalah, seharusnya cara pandang kita tentang politik sudah harus berubah. Kita seharusnya mampu memahami bahwa politik itu adalah amanat agung/pengutusan agung yang harus kita jalani. Politik mari kita pandang sebagai bagian dari misi, seperti dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa tugas kita atau misi kita adalah menjadikan semua bangsa-bangsa menjadi umat kepunyaan Allah. Jadi bagaimana kita bisa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa kepunyaan Allah jika kita tidak mampu merambat masuk dalam bidang politik bangsa.

Pemerintah dipanggil sebagai pelayan Tuhan yang melayani dan bertanggung jawab. Pemerintah harus menjalankan kuasa berdasarkan kebenaran dan keadilan. Sebagai hamba Allah, para penguasa tidak boleh memerintah dengan kekerasan dan tangan besi (Mrk 10:41-45). Bagaimana hal ini menjadi nyata kalau kita sebagai Orang Muda Katolik tidak menyuarakan ini atau berani masuk dalam kursi politik.

Sebagai seorang hamba kebenaran dan keadilan, Yesus menganjurkan kepada para pengikutnya untuk tidak memerintah dengan kekerasan dan tangan besi. Ia berharap agar murid-muridNya tidak berkolusi dengan siapapun, dan juga tidak melibatkan diri dalam tindakan manipulasi dan korupsi. Dari semua tindakan-Nya, Yesus menunjukkan keberpihakanNya kepada golongan miskin dan tertindas. Yesus tidak mau berkolusi dengan golongan Farisi, Saduki dan ahli Taurat untuk menindas kaum lemah. Ia menuntut agar mereka menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etis dalam semua bidang kehidupan sehingga semua tindakan mereka dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah dan sesama.

Tanggung jawab moral kepada Allah dan tanggung jawab etis kepada sesama ini bersifat integral. Tunduk kepada pemerintah juga bukan berarti melakukan semua perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma kebenaran dan keadilan. Yesus meminta kepada kita sebagai pengikut-Nya untuk berdiri tegak di atas kebenaran dan keadilan serta tetap berusaha menyuarakan suara kenabian dalam situasi apapun, seperti yang telah dilakukan para nabi dan juga oleh Yohanes Pembaptis.

Gereja Katolik dan kita sebagai OMK harus mampu mengupayakan penafsiran yang komprehensif holistik terhadap Mrk 10:41-45 ini agar mampu melaksanakan misi Allah yang dijalankan oleh Yesus Kristus, dan dimandatkan kepada kita sebagai pengikut-Nya. Gereja Tuhan, sebagai persekutuan orang percaya, umat Allah, dan masyarakat Gereja, yang dikepalai oleh Yesus Kristus sendiri, mempunyai tugas khusus sebagai saksi Kristus dalam memprakarsai lahirnya masyarakat baru yang berasaskan kebenaran dan keadilan. Masyarakat Kristen berfungsi sebagai terang dan garam dunia. Menjadi orang Kristen berarti siap mengemban misi Kristus, menjadi terang di tengah-tengah kegelapan dan menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia yang bengkok.

              10. Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:

  1. Bagi pemimpin Gereja sebagai pemerihati pemerintahan. Kami mohon….
  2. Bagi pemimpin Negara Kita yang Katolik. Kami mohon….
  3. Bagi bagi OMK yang terlibat dalam dunia politik. Kami mohon…
  4. Bagi kita yang berkumpul di sini. Kami mohon…

P. Ya Allah bapa kami terimakasih karena sudah mendengarkan kebutuhan-kebutuhan kami demi pertumbuhan iman dan kehidupan kami. Doa ini kami haturkan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.

              11. Doa menyongsong KAM Youth Day IV

              12. Nyanyian Syukur

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

Bersatulah Kita Semua  (PS No. 1034)

Bersatulah kita semua dalam keluarga Allah

Di dalamnya kita bahagia menikmati cinta Tuhan

Mari kita teguhkan iman pada Allah Tuhan kita

Dari sesat kita terhindar arah hidup kita benar

                Kristus junjungan kita pandu penunjuk arah

                Marilah maju dan berjuang walaupun banyak rintangan

                Jangan gentar dan jangan takut

                Tuhan tetap sertamu

              13. Doa Penutup

P. Ya Bapa Surgawi, Engkau memanggil setiap orang memikul salib pewartaan di dunia ini. Bantulah kami ya Allah agar kami mampu mewujudkan tugas dan tanggung jawab kami. Ingatkanlah senantiasa kami Orang Muda Katolik dan para pemimpin kami, agar kami senantiasa mengingat bahwa ditangan-Mulah sebenarnya terletak segala kuasa atas bumi kami. Berikanlah hikmat kepada kami dan para pemimpin kami agar kami senantiasa bersikap rendah hati dan penuh kasih dalam memimpin dan mengembangkan negara kami. Doa ini kami mohonkan kepadaMu Bapa dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

P+U. Amin.

              14. Perutusan

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

                15. Nyanyian Penutup (Themesong)

              16. Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *