Doa & Ngopi OMK KAM : Pekan I Desember 2018

Persiapan Perayaan

  1. Pemimpin (P): Bisa pembina OMK, pendamping OMK atau OMK sendiri. Pemimpin memberitahukan secara singkat jalannya perayaan dan menghunjuk petugas-petugas yang perlu.
  2. Pembawa doa permohonan. Sebelum ibadat, para pembawa doa sudah menentukan siapa yang akan didoakan. Doa dibawakan secara spontan.
  3. Kelompok diskusi: peserta sudah dibagi menjadi beberapa kelompok.
  4. Pembawa nyanyian: seseorang yang bisa.
  5. Salib, lilin dan copyan teks ibadat.
  6. Tempat pengumpulan kolekte. Kolekte dilaksanakan pada nyanyian penutup.

Gagasan Dasar

Peradaban manusia semakin maju dan modern. Cara pandang manusia terhadap diri dan lingkungannya senantiasa berubah dari masa ke masa. Hal tersebut merujuk kepada peradaban dan kebudayaan yang memiliki kekhasan dan ciri tersendiri pada setiap zaman. Kebudayaan dan peradaban selalu mengalami perkembangan maupun kemunduran. Artinya kebudayaan senantiasa berubah. Dimanapun manusia hadir maka disanalah ada kebudayaan. Akan tetapi satu hal yang tidak pernah berubah dari manusia adalah kebutuhan untuk dicintai dan disayangi. Manusia dalam segala zaman dan latar belakang budaya memiliki kebutuhan untuk dicintai, dikasihi dan disayangi.

Nyanyian Pembuka

Hari ini kurasa bahagia

Berkumpul bersama saudara seiman.

Tuhan Yesus tlah satukan kita

Tanpa memandang di antara kita.

            Bergandengan tangan dalam kasih

            Dalam satu hati

            Berjalan dalam terang kasih Tuhan.

Kau saudaraku, kau sahabatku

Tiada yang dapat memisahkan kita. 2X

Seruan Pembukaan

P. Datanglah ya Roh Kudus penuhi hati umatMu.

U. Dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.

Hening sejenak….

Tanda Salib & Salam

P. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U. Amin

P. Tuhan berserta kita

U. Sekarang dan selama-lamanya

Pemeriksaan Batin

P. Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita layak mengikuti ibadat ini.

Hening….

P. Saya mengaku….

Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

Doa Pembukaan

P. Marilah berdoa,

            Ya Allah yang mahabaik, kami bersyukur karena bisa kembali berkumpul di sini bersama saudara/i seiman.  Kami akan bergelut dengan topik “Hidup Bersama Secara Kristiani”, semoga Roh KudusMu menaungi kami dan membimbing hati dan budi kami agar kami mampu menangkap pesan moral dan iman dari pertemuan ini. Demi Yesus Kristus, PuteraMu dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa.

P+U.    Amin.

  1. MENGENAL YESUS

Memaparkan rangkuman khazanah iman dari Docat No. 305-309

ORANG KRISTEN MEMILIKI KOMITMEN SOSIAL

Menjadi orang Kristen bukanlah urusan pribadi semata. Apabila seseorang memutuskan untuk mengikuti Yesus maka orang itu harus siap untuk mengikuti Dia, mendengarkanNya dan siap untuk diutus ke seluruh dunia. Perutusan itu ialah menjadikan semua umat manusia menjadi murid Yesus di dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus (Mat 28:19).

Karena kita diutus ke tengah-tengah dunia yang dipenuhi dengan penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan dsb; tidak bisa tidak, kita harus terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat. Di dunia kita mencari Yesus dalam diri sesama bahkan yang paling hina sekalipun (Mat 25:40). Yang harus kita lakukan ialah membebaskan manusia dari keserakahan dan dosa serta berusaha melayani sesama (solidaritas), menjaga sesejahteraan umum, menjamin perkembangan komunitas-komunitas masyarakat dengan bebas dalam damai dan keadilan (subsidiaritas).

Bagaimana kita mengetahui hal-hal yang harus kita lakukan sementara dunia dipenuhi dengan konflik dan gejolak sosial? Dalam diri kita Allah membentuk hati nurani yang memampukan manusia untuk bisa membedakan hal yang baik dan hal yang jahat. Jika hati nurani kita sejalan dengan kehendak Allah maka keputusan kita bisa menjadi hal yang dapat menjawab kebutuhan jaman ini dan jika tidak, maka keputusan kita bisa menjadi alasan semakin parahnya gejolak sosial dan konflik yang terjadi.

Hidup bersama secara kristiani tidak menjadikan ”kuasa” sebagai pusat utama. Allah menghendaki agar ”kasih” menjadi pusat perhatian utama kita. Dengan kasih kita membentuk budaya saling menghormati, saling percaya, saling menghibur sehingga muncul suka cita hidup. Dengan demikian tidak ada martabat manusia yang diabaikan, akan terciptakan ikatan batin di tengah-tengah hidup bermasyarakat dan kesadaran sosial akan muncul serta menembus batas-batas agama yang ada.

Jadi tidak motivasi yang lebih manjur selain alasan ”kasih”. Maka langkah pertama dan utama yang harus dilakukan setiap pribadi kristiani ialah hubungannya dengan Kristus yang selalu baik. Orang kristen harus bertanya, apa yang hati Yesus ingin aku lakukan? Yang diinginkan Yesus ialah bahwa kita punya komitmen sosial. Komitmen ini sekaligus menjadi kesaksian hidup atas iman kepada Yesus bahkan dilingkungan yang tidak bersahabat. Ketika kebenaran dan keadilan menuntut, orang kristen juga harus mampu mengurbankan hidupnya.

  1. BERBAGI PENGALAMAN AKAN YESUS

Pemimpin mengarahkan peserta masuk dalam kelompok-kelompok kecil (4-6 orang atau sesuai kebutuhan) untuk sharing pengalaman iman dan hidup sesuai dengan tema dan katekese yang baru didengar dengan bertitik tolak dari pertanyaan-pertanyaan panduan ini:

  1. Apakah aku memiliki suatu komitmen berhubungan dengan hidup bermasyarakat?
  2. Mengapa kasih menjadi motivasi utama dalam komitmen sosial kita?

Setelah peserta selesai sharing (20-30 menit), kemudian pemimpin menyampaikan rangkuman sesuai hasil diskus. Namun di bawah ini tercantum tawaran rangkuman untuk disampaikan jika dirasa cocok:

Yesus mengajarkan kita bahwa “hukum asasi kesempurnaan manusiawi dan karena itu juga perombakan dunia ialah perintah baru cinta kasih” (bdk. Mat 22:40; Yoh 15:12; Kol 3:14; Yak 2:8). Tingkah laku pribadi menjadi manusiawi sepenuhnya manakala ia terlahir dari cinta kasih, menampakkan cinta kasih dan diarahkan kepada cinta kasih. Kebenaran ini juga berlaku di dalam ranah sosial; orang-orang Kristen mesti menjadi saksi-saksi yang secara mendalam meyakini hal ini, dan mereka harus menunjukkan melalui kehidupan mereka bagaimana cinta kasih merupakan satu-satunya kekuatan (bdk. 1Kor 12:31-14:1) yang dapat mengantar kepada kesempurnaan personal dan sosial, seraya memungkinkan masyarakat melakukan kemajuan menuju kesejahteraan.

  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

OMK bertemu dengan Yesus melalui sabda-Nya dan yang diperdalam dengan renungan. Menanggapi kehadiran Tuhan OMK menyampaikan doa-doa permohonan.

P. Tuhan Beserta Kita

U. Sekarang dan Selama-lamanya

P. Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Matius (Mat 25:31-46)

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

P. Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Melayani Tuhan dan Sesama

Terlalu sering kita mendengar panggilan untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Materi tersebut tidak pernah habis-habisnya untuk dibahas, dikemukakan, dan dimaknai secara baru. Karena memang melayani Tuhan dan melayani sesama merupakan panggilan yang begitu esensial dalam kehidupan orang percaya. Bukan hanya dalam kehidupan jemaat, namun dalam kehidupan sehari-hari istilah “melayani” telah menjadi ukuran mutu dan profesionalisme suatu bidang pekerjaan. Semakin seseorang atau lembaga apapun yang mampu melaksanakan pelayanan, maka semakin berkualitas, terpercaya, dan dihargai oleh banyak orang. Karena itu di setiap bank, kantor-kantor pemerintah/swasta, perusahaan-perusahaan, dan industri berlomba-lomba mengedepankan mutu suatu pelayanan kepada masyarakat. Namun ironisnya, dalam kehidupan gereja justru semakin jarang umat mau berlomba-lomba meningkatkan mutu pelayanan. Sebab setiap orang berpikir dan mengharap, “kapan saya mendapat pelayanan.” Namun jarang di antara umat yang berpikir dan memiliki komitmen, “kapan saya memberi pelayanan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.” Kita tidak dapat membayangkan seandainya setiap umat memiliki beban dan tanggungjawab untuk saling melayani, dan mengembangkan pelayanan tersebut kepada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas, pastilah dampak kehadiran gereja akan menjadi signifikan sebagai garam dan terang dunia.

Urgensi pentingnya pelayanan kepada sesama dalam perikop Injil Matius 25:31-46 ditempatkan dalam konteks pengadilan zaman akhir. Pentingnya pelayanan bukan karena mampu menghasilkan keuntungan/profit, namun pelayanan kepada sesama menentukan keselamatan dan hidup kekal. Dalam hal ini kita dapat melihat pentingnya pelayanan kepada sesama dalam konteks pengadilan zaman akhir, yaitu di Matius 25:40, dan Matius 25:31. Di Matius 25:40, setiap umat akan diadili Kristus berdasarkan segala sesuatu yang kamu lakukan kepada sesama, dan di Matius 25:31, mempersaksikan Kristus selaku Raja akan datang dalam kemuliaan bersama para malaikat-Nya untuk mengadili setiap orang seperti gembala yang memisahkan domba dari kambing. Dengan perkataan lain, selaku Raja, Kristus akan menjadi Hakim yang memisahkan manusia dalam kelompok “kambing” atau “domba” berdasarkan perilaku mereka terhadap sesama khususnya sesama yang lemah dan tertindas.

Pada umumnya dunia mengembangkan profesionalisme pelayanan kepada masyarakat dalam rangka bisnis dan sikap humanisme. Namun dalam kesaksian Injil Matius 25:31-46, makna dan hakikat pelayanan kepada sesama ditempatkan lebih mendalam. Sebab perlakuan kita kepada sesama pada hakikatnya kita lakukan kepada Kristus. Apabila kita mengasihi, mempedulikan, menghargai, dan menolong setiap orang pada hakikatnya kita melakukannya kepada Tuhan Yesus. Sebaliknya bila kita berbuat jahat, berlaku sewenang-wenang, mempraktikkan ketidakadilan, menindas, merusak nama baik seseorang, dan mengeksploitasi sesama untuk keuntungan diri sendiri pada hakikatnya kita memperlakukan kepada Tuhan Yesus. Sesama manusia bukan sekedar “orang-orang di sekitar” kita, namun sesama adalah manifestasi dari wajah Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu tidaklah mengherankan jika filsuf Emmanuel Levinas memahami sesama sebagai peristiwa epifani (penampakan Tuhan). Dalam bukunya yang berjudul Totality and Infinity (1979), Levinas menggunakan istilah “wajah” (visage). Makna “wajah” yang dimaksud oleh Levinas bukanlah secara harafiah seperti seseorang yang memiliki kepala yang terdiri dari mata, hidung, mulut, dagu, pipi, dan sebagainya. Makna “wajah” dalam filsafat Levinas dipakai untuk menunjuk pada situasi orang lain muncul di hadapan kita. Kita berhadapan muka dengan muka dengan orang lain. Orang lain dengan wajahnya itu menyapa kita baik dengan ataupun tanpa kata. Wajah orang lain tersebut dipahami Levinas sebagai suatu “epifani” (penampakan), yaitu peristiwa penampakan wajah melalui peristiwa munculnya ‘orang lain’ di hadapan ‘aku’ (fenomena), serta penglihatan sebagai sarana untuk menangkap ‘orang lain’ yang muncul di hadapan ‘aku’ (Levinas 1979, 194-195). Karena itu tanggungjawab setiap orang adalah menghormati dan saling membagi ruang.

Memberitakan Injil berarti kita menghormati, peduli, dan mengasihi sesama dalam konteks hidupnya. Injil Kristus sebagai kabar baik harus menjadi suatu kabar yang meneguhkan harkat dan martabat kemanusiaan. Karena itu kita selaku gereja menolak dengan tegas setiap sikap/tindakan yang melecehkan orang lain, penindasan dalam bentuk apapun, kekerasan fisik atau mental, sikap pengabaian kepada orang yang menderita, dan eksploitasi manusia dalam berbagai sistem. Tugas memberitakan Injil berarti kita membuka setiap sekat dan belenggu, sehingga tercipta suatu ruang kasih yang berbela-rasa. Karena itu kita wajib memperlakukan setiap orang sebagai sahabat-sahabat Kristus.

Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:

  1. Bagi para kaum miskin dan terkucilkan…. kami mohon.
  2. Bagi pembela keadilan dan perdamaian…. kami mohon.
  3. Bagi OMK sedunia…. kami mohon.
  4. Bagi Kita yang berkumpul di sini…. kami mohon.

P. Marilah kita persatukan segala doa-doa permohonan kita dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri kepada kita.

P+U.    Bapa Kami….

  1. MENYATAKAN YESUS

Pengenalan dan pertemuan dengan Yesus dalam doa harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan nyata apa yang harus dilakukan sesudah kebaktian ini? Untuk itu disediakan waktu hening (bermenung) sekitar 5 menit untuk meneguhkan niat-niat. Musik yang menunjang permenungan bisa diputar. Pemimpin (jika cocok) bisa juga menawarkan aksi-aksi nyata yang aplikatif dari pertemuan misalnya:

P. Saudara-i muda marilah kita hening sejenak mencari dan menentukan hal praktis yang harus kita praktekkan dalam kehidupan kita sebagai aplikasi dari perayaan iman hari ini.

Hening….

Usul aksi nyata:

  • OMK berkomitmen untuk terlibat dalam aksi sosial.
  • OMK berkomitmen untuk hidup bersama secara kristiani. 

Doa Penutup

P. Marilah berdoa,

            Ya, Bapa, terima kasih atas penyertaanMu bagi kami selama kegiatan ini. Semoga kami semakin mampu membangun komitmen sosial dalam hidup bersama. Semoga kami mampu melihat wajahMu dalam diri sesama kami. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan meraja bersama Dikau dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa.

P+U.    Amin.

Seruan Penutup

P. Datanglah Roh Maha Kudus bentara cinta Sang Kristus.

U. Tolong kami jadi saksi membawa cinta ilahi.

Perutusan

Semua membuat tanda salib untuk dirinya sendiri, kecuali jika pemimpin adalah imam.

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

Nyanyian Penutup

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

                        Pujilah Tuhan

            Pujilah Tuhan                          Bless the Lord, my soul

            pujilah namaNya.                    And bless God’s holy name

            Pujilah Tuhan                          Bless the Lord, my soul

            sumber kehidupan.                  He leads me into life

Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *