Doa & Ngopi OMK KAM : Pekan IV April 2019

Persiapan Perayaan

  1. Pemimpin (P): Bisa pembina OMK, pendamping OMK atau OMK sendiri. Pemimpin memberitahukan secara singkat jalannya perayaan dan menghunjuk petugas-petugas yang perlu.
  2. Pembawa doa permohonan. Sebelum ibadat, para pembawa doa sudah menentukan siapa yang akan didoakan. Doa dibawakan secara spontan.
  3. Kelompok diskusi: peserta sudah dibagi menjadi beberapa kelompok.
  4. Pembawa nyanyian: seseorang yang bisa.
  5. Salib, lilin dan copyan teks ibadat. Tempat pengumpulan kolekte. Kolekte dilaksanakan pada nyanyian penutup.

Nyanyian Pembukaan

Alangkah Bahagianya (PS No. 619)

Alangkah bahagianya hidup rukun dan damai

Didalam persaudaraan bagai minyak yang harum.

            Ref. Alangkah bahagianya hidup rukun dan damai.

Ibarat embun yang segar pada pagi yang cerah

Laksana anggur yang lezat ‘kan pemuas dahaga. Ref

            Begitulah berkat Tuhan dengan berlimpah ruah

            Turun ke atas mereka kini dan selamanya. Ref

Seruan Pembukaan

P. Datanglah ya Roh Kudus penuhi hati umatMu.

U. Dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.

Hening sejenak…. 

Tanda Salib & Salam

P. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U. Amin

P. Tuhan berserta kita

U. Sekarang dan selama-lamanya

Pemeriksaan Batin

P. Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita dilayakkan Allah mengikuti ibadat ini.

Hening….

P. Kasihanilah kami ya Tuhan

U. Sebab kami orang berdosa

P. Tunjukkanlah belas kasihMu kepada kami

U. Sebab kami orang berdosa

P. Anugerahkanlah keselamatan kepada kami

U. Sebab kami orang berdosa

Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

Doa Pembukaan

P. Marilah berdoa,

Bapa yang mahabaik, terimakasih atas iman yang Engkau anugerahkan kepada kami. Iman dirumuskan oleh gerejaMu dalam “Syahadat Para Rasul”. Dalam pertemuan kali ini kami secara khusus mau membahas bagian dari iman kami itu yakni “kebangkitan badan, dan kehidupan yang kekal” yang akan Engkau anugerahkan kepada kami. Maka kami mohon hadirlah bersama kami dalam pertemuan ini. Demi Kristus, Pengantara kami.

P+U.    Amin

  1. MENGENAL YESUS

Memaparkan rangkuman khazanah iman dari Youcat No. 152-155

PENGHARAPAN IMAN

Kebangkitan Badan. Syahadat atau pengakuan iman kita menegaskan bahwa orang-orang mati akan bangkit kepada kehidupan kekal. Kita percaya seperti Kristus telah bangkit demikian pun orang-orang benar sesudah kematiannya akan hidup untuk selama-lamanya bersama Kristus. Iman akan kebangkitan orang-orang mati ini sejak awal merupakan satu bagian mendasar dalam iman Kristen. “Kebangkitan orang-orang mati adalah harapan orang Kristen; dalam iman akan kebangkitan itu kami hidup” (Tertulianus, res. 1,1). Kitab Suci mengatakan: “Bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Tetapi yang benar ialah Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:12-14.20).

Yesus menghubungkan iman akan kebangkitan itu dengan pribadi-Nya: “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25). Pada hari kiamat Yesus sendiri akan membangkitkan mereka, yang percaya kepada-Nya (Bdk. Yoh 5:24-25; 6:40), yang telah makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya Bdk. Yoh 6:54. Dalam kehidupan-Nya di dunia ini Yesus telah memberikan tanda dan jaminan untuk itu, waktu Ia membangkitkan beberapa orang mati (Bdk. Mrk 5:21-42; Luk 7:11-17; Yoh 11), dan dengan demikian mengumumkan kebangkitan-Nya sendiri, tetapi yang termasuk dalam tatanan yang lain. Kejadian yang sangat khusus ini Ia bicarakan sebagai “tanda nabi Yunus” (Mat 12:39), tanda kanisah Bdk. Yoh 2:19-22.: Ia mengumumkan bahwa Ia akan dibunuh, tetapi akan bangkit lagi pada hari ketiga (Bdk. Mrk 10:34).

Ungkapan “daging” berarti, manusia dalam kelemahannya dan keadaannya yang fana (Bdk. Kej 6:3; Mzm 56:5; Yes 40:6) “Kebangkitan daging” (sebagaimana bunyi rumusan secara harfiah dalam pengakuan iman apostolik) dengan demikian berarti, bahwa sesudah kematian tidak hanya jiwa kita yang hidup terus, tetapi bahwa “tubuh kita yang fana” ini juga akan hidup kembali (Rm 8:11).

Bagaimana Orang-orang Mati akan Bangkit?

Apa artinya “bangkit”? Pada saat kematian, di mana jiwa berpisah dari badan, tubuh manusia mengalami kehancuran, sedangkan jiwanya melangkah menuju Allah dan menunggu saat, di mana ia sekali kelak akan disatukan kembali dengan tubuhnya. Dalam kemaha-kuasaan-Nya, Allah akan menganugerahkan kepada tubuh kita secara definitif kehidupan yang abadi, waktu Ia menyatukannya lagi dengan jiwa kita berkat kebangkitan Yesus.

Siapa akan bangkit?

Semua manusia yang telah meninggal: “Mereka yang, berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang abadi, tetapi mereka yang berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:29; Bdk. Dan 12:2) Bagaimana? Kristus telah bangkit dengan tubuh-Nya sendiri: “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku; Aku sendirilah ini” (Luk 24:39), tetapi Ia tidak kembali lagi kepada kehidupan di dunia ini. Atas cara demikian “semua orang akan bangkit… dengan tubuhnya sendiri, yang sekarang mereka miliki” (Konsili Lateran IV: DS 801). Tetapi tubuh mereka akan diubah ke dalam “rupa tubuh yang mulia” (Flp 3:21), ke dalam “tubuh rohani” (1 Kor 15:44):

“Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: ‘Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?’ Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit… yang ditaburkan akan binasa, yang dibangkitkan tidak akan binasa… Orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa… Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati” (1 Kor 15:35- 37.42.52-53).

  1. BERBAGI PENGALAMAN AKAN YESUS

Pemimpin mengarahkan peserta masuk dalam kelompok-kelompok kecil (4-6 orang atau sesuai kebutuhan) untuk sharing pengalaman iman dan hidup sesuai dengan tema dan katekese yang baru didengar dengan bertitik tolak dari pertanyaan-pertanyaan panduan ini:

  • Sebelum mendengarkan katekese ini, bagaimana kamu membayangkan “kebangkitan badan” itu?
  • Setelah mendengar katekese ini, bagaimana menurutmu tentang kebangkitan badan?

Setelah peserta selesai sharing (20-30 menit), kemudian pemimpin menyampaikan rangkuman:

“Gereja Roma yang suci percaya teguh dan menjelaskan dengan tegas bahwa pada hari pengadilan semua manusia akan tampil dalam tubuhnya di depan takhta pengadilan Kristus, supaya mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka” (DS 859) Bdk. DS 1549. Pada akhir zaman Kerajaan Allah akan sampai pada kesempurnaannya. Lalu orang-orang benar akan dimuliakan dengan jiwa dan badan, akan memerintah bersama Kristus sampai selama-lamanya, dan alam semesta material akan diubah. Lalu dalam kemuliaan itu Allah akan “menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28).

  • BERJUMPA DENGAN YESUS

OMK bertemu dengan Yesus melalui sabda-Nya dan yang diperdalam dengan renungan. Menanggapi kehadiran Tuhan OMK menyampaikan doa-doa permohonan.

P. Tuhan Beserta Kita

U. Sekarang dan Selama-lamanya

P. Inilah Injil Tuhan kita, Yesus Kristus menurut Santo Lukas (Luk 20:27-38)

P. Dimuliakanlah Tuhan.

Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.

20:30 Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”

P. Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Perjalanan hidup kita di dunia ini memang menjadi semacam “persiapan” bagi penggenapannya di kehidupan yang akan datang, yaitu untuk persatuan dengan Allah. Karena itu, kalau kita benar-benar ingin masuk Surga, itu harus tercermin dari keputusan kita ketika dihadapkan pada pilihan: mau ikut dunia atau mau taat kepada Tuhan. Ini seperti kisah ibu dan ketujuh anaknya yang memilih untuk menaati hukum Taurat, walaupun karenanya mereka dihukum mati (lih. 2Mak 7). Dalam konteks sekarang, di tengah berbagai tawaran dunia, kita juga dituntut untuk mentaati hukum Kristus. Hal kontras ini dapat mengemuka di banyak keadaan. Bagi para OMK yang berpacaran: mau pilih seks pranikah atau menjaga kemurnian? Bagi para pecandu dosa tertentu: mau jatuh lagi, atau meninggalkan kebiasaan buruk itu? Bagi para pekerja: mau korupsi atau jujur? Bagi para pelajar: mau belajar sungguh-sunguh atau tidak peduli. Sepanjang hidup di dunia, kita dihadapkan pada banyak pilihan, dan pilihan yang kita buat saat ini mencerminkan apakah kita sudah siap untuk memasuki kehidupan kekal di Surga.

Jika kita masih lebih memilih apa yang lebih diterima dunia daripada apa yang dikehendaki Allah, maka sebenarnya, perbuatan kita belum sesuai dengan harapan kita sendiri untuk masuk Surga. Jika kita masih jatuh bangun untuk menaati perintah Tuhan, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk bertobat dan kembali memilih Allah daripada kesenangan kita sendiri. Sebab hanya dengan demikian, kita dapat menjadi semakin serupa dengan mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam kehidupan kekal di Surga.

Injil di atas memaparkan tentang penjelasan Tuhan Yesus tentang bagaimana keadaan mereka yang di Surga. Yesus menjelaskan hal ini untuk menjawab pertanyaan orang-orang Saduki tentang kasus seorang wanita yang dinikahi oleh seorang pria yang kemudian meninggal dunia tanpa dikaruniai anak. Lalu wanita itu dinikahi oleh saudaranya yang kedua sampai ketujuh, yang masing-masing meninggal, tanpa keturunan. Setelah itu, wanita itu pun meninggal. Orang-orang Saduki itu bertanya kepada Yesus: setelah kebangkitan, menjadi istri saudara yang ke-berapa-kah wanita itu, karena ketujuhnya telah beristrikan dia. Sepertinya, orang-orang Saduki ini sengaja menyusun kisah yang ekstrim, supaya sepertinya tidak bisa dijawab, tentang bagaimana akhir kisah percintaan yang ruwet itu, jika masih ada kehidupan setelah di dunia ini. Namun makna perkawinan menurut dunia memang tidak sama dengan makna perkawinan menurut Tuhan, yang memiliki dimensi gambaran kasih Allah kepada umat-Nya.    Firman Tuhan mengajarkan, agar suami mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi Gereja-Nya, dan istri mengasihi suaminya seperti Gereja mengasihi Kristus (lih Ef 5:22-33). Demikian pula, mereka yang menjalani hidup selibat bagi Allah, yang telah dengan lebih jelas menyatakan hubungan kasih yang total itu, sejak hidup di dunia ini.

Jadi pikiran kaum Saduki memang tidak sejalan dengan pikiran Tuhan Yesus. Mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati. Mereka tidak percaya bahwa jiwa manusia itu kekal, dan akan menikmati persatuan kasih yang sempurna dengan Allah, tentu jika ia taat setia kepada Allah. Maka setelah Yesus mengajarkan tentang adanya kebangkitan, dan bahwa Ia sendiri akan bangkit pada hari ketiga setelah kematian-Nya (lih. Luk 18:32-33), kaum Saduki menyusun kisah tentang ketujuh saudara itu, untuk mencobai Yesus. Namun Yesus menjawab bahwa mereka yang dibangkitkan itu, “tidak kawin dan tidak dikawinkan, sebab mereka tidak dapat mati lagi….” (Luk 20:35-36). Bagaimana memahami pernyataan Yesus ini?  St. Agustinus menjelaskan, “Perkawinan adalah demi anak-anak, anak-anak ada demi kelanjutan keturunan dan kelanjutan keturunan ada, karena ada kematian. Karena itu, ketika tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi perkawinan. Demikianlah dikatakan selanjutnya, sebab mereka menjadi sama seperti para malaikat. Sebab sebagaimana begitu banyak malaikat yang memang sangat besar jumlahnya, tetapi mereka tidak menjadi lebih banyak melalui kelahiran, melainkan mereka telah ada sejak penciptaan. Sehingga juga kepada mereka yang dibangkitkan kembali, mereka tidak lagi perlu untuk menikah….” (St. Augustine, Catena Aurea, Luk 20:27-40).

Maka “menjadi seperti malaikat” di Surga bukan berarti bahwa di Surga suami istri tidak saling mengenali dan mengasihi. Yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu bahwa kasih mereka akan menjadi sempurna di dalam Allah, sebab segalanya sempurna di Surga. Namun bahwa kebahagiaan mereka tidak lagi diperoleh dari hubungan perkawinan mereka, melainkan dari Allah sendiri, yang meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28).

  1. Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:

  1. Bagi Pemimpin Bangsa

            …. Kami mohon….

  1. Bagi Gereja Umat Allah

            …. Kami mohon….

  1. Bagi Persatuan OMK

            …. Kami mohon….

  1. Bagi para OMK yang sedang bergulat dengan masalah

            …. Kami mohon….

P. Marilah kita persatukan segala doa-doa permohonan kita dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri kepada kita.

P+U    Bapa Kami….

  1. MENYATAKAN YESUS

Pengenalan dan pertemuan dengan Yesus dalam doa harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan nyata apa yang harus dilakukan sesudah kebaktian ini? Untuk itu disediakan waktu hening (bermenung) sekitar 5 menit untuk meneguhkan niat-niat. Musik yang menunjang permenungan bisa diputar. Pemimpin (jika cocok) bisa juga menawarkan aksi-aksi nyata yang aplikatif dari pertemuan misalnya:

P. Saudara-i muda marilah kita hening sejenak mencari dan menentukan hal praktis yang harus kita praktekkan dalam kehidupan kita sebagai aplikasi dari perayaan iman malam ini.

Hening…. 

Usul aksi nyata:

  • OMK berkomitmen untuk mempelajari hal-hal kekal.
  • OMK berkomitmen agar hidup benar agar dibangkitkan pada akhir zaman.

Doa Penutup

  1. Marilah berdoa,

            Bapa yang Mahapengasih, selesailah sudah pertemuan kami untuk hari ini. Semoga setiap pelajaran yang kami timba hari ini semakin mendekatkan kami kepadaMu. Demi Yesus Kristus,    Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan meraja bersama Dikau, dalam kesatuan dengan Roh        Kudus, kini dan sepanjang masa.

P+U.    Amin.

Seruan Penutup

PDatanglah Roh Maha Kudus bentara cinta Sang Kristus.

U. Tolong kami jadi saksi membawa cinta ilahi.

Perutusan

Semua membuat tanda salib untuk dirinya sendiri.

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

Nyanyian Penutup 

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

Gereja bagai bahtera (PS No. 621)

Gereja bagai bahtera di laut yang seram

            Mengarahkan haluannya kepantai sebarang

            Mengamuklah samudera dan badai menderu

            Gelombang zaman menghempas dan sulit ditempuh

            Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih

            Berapa lagi jauhnya labuhan abadi?

Ref.    Tuhan tolonglah! Tuhan tolonglah!

          Tanpa Dikau semua binasa kelak. Ya Tuhan tolonglah.

            Gereja bagai bahtera pun suka berhenti

            Tak menempuh samudera,tak inggin berjerih

            Dan hanya masa jayanya selalu dikenang

            Ta ingat akan dunia yang hampir tenggelam

            Gereja yang tak bertekun didalam tugasnya

            Tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah!

Gereja bagai bahtera diatur awaknya

Setiap orang bekerja menurut tugasnya

Semua satu padulah setia bertekun

Demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh

Roh Allah yang menyatukan, membina,membentuk

Didalam kasih dan iman dan harap yang teguh

Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *