Doa & Ngopi OMK KAM : Pekan IV Juli 2019

SAKRAMEN EKARISTI

Persiapan Perayaan

  1. Pemimpin (P): Bisa pembinaOMK, pendamping OMK atau OMK sendiri. Pemimpin memberitahukan secara singkat jalannya perayaan dan menghunjuk petugas-petugas yang perlu.
  2. Pembawa doa permohonan. Sebelum ibadat, para pembawa doa sudah menentukan siapa yang akan didoakan. Doa dibawakan secara spontan.
  3. Kelompok diskusi: peserta sudah dibagi menjadi beberapa kelompok.
  4. Pembawa nyanyian: seseorang yang bisa.
  5. Salib, lilin dan copyan teks ibadat.
  6. Tempat pengumpulan kolekte. Kolekte dilaksanakan pada nyanyian penutup.

Nyanyian Pembuka

Diusahakan dipilih lagu yang sesuai dengan topik pada hari yang bersangkutan.

                        Nyanyian Pembukaan

Bukan dengan barang fana

Kau membayar dosaku

dengan darah yang mahal tiada noda dan cela

bukan dengan emas perak

Kau menebus diriku

oleh segenap kasih dan pengorbananmu

Ku telah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama

semuanya sia-sia dan tak berarti lagi

hidup ini ku letakkan pada mezbahmu ya Tuhan

jadilah padaku seperti yang kau ingini

Seruan Pembukaan

P          Datanglah ya Roh Kudus penuhi hati umatMu.

U         Dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.

Hening sejenak….

Tanda Salib & Salam

P          Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

U         Amin.

P          Tuhan berserta kita.

U         Sekarang dan selama-lamanya.

Pemeriksaan Batin

P          Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari kesalahan dan kelalaian, maka marilah sejenak kita mengingat-ingat dosa dan kesalahan kita seraya mengakuinya di hadapan Allah dan di hadapan sesama agar kita layak mengikuti ibadat ini. Hening….

P          Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa, oleh sebab itu saya mohon, kepada santa perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekelian supaya mendoakan saya kepada Allah Tuhan kita.

Absolusi

P          Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U         Amin.

Doa Pembukaan

P       Marilah berdoa,

          Ya Allah, berkatilah kami dalam pertemuan menggembirakan ini agar kami bertambah dalam iman kepada-Mu karena diskusi yang akan kami laksanakan. Demi Kristus, Tuhan kami.

PU       Amin

  1. MENGENAL YESUS

Memaparkan rangkuman khazanah iman dari YOUCAT No 208-213

Metode: Khazanah ini digeluti dengan metode Tanya Jawab: Atas setiap pertanyaan pemimpin membiarkan dua tiga orang berkomentar kemudian pemimpin menyimpulkan jawabannya.

KRISTUS ROTI SURGAWI

Ekaristi berasal dari kata Yunani, eucharistia = syukur. Pada masa Gereja Perdana, Ekaristi adalah nama yang digunakan untuk doa syukur yang mendahului perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dalam liturgi. Kemudian istilah ini digunakan untuk seluruh perayaan.

Jadi Ekaristi adalah ucapan syukur kepada Allah. Kata-kata (Bdk. Luk 22:19; 1 Kor 11:24. Bdk. Mat 26:26; Mrk 14:22). Ekaristi adalah Ucapan Syukur karena Yesus mau menderita, wafat di salib dan bangkit pada hari ketiga untuk keselamatan dunia. Agar dapat dikatakan Pujian Syukur  harus dilakukan dari hati yang tulus dan niat yang suci (dengan sukacita bersyukur). Syukur selalu mengungkapkan kegembiraan hati atas rahmat Allah. Rahmat itu disyukuri dan di persembahkan kembali kepada Allah yang telah memberinya. Sehubungan dengan itu, segala syukur kita bisa disampaikan dalam Ekaristi. Misalnya: Syukur atas Perkawinan 7 tahun lalu, Syukur atas ultah ke-20, syukur atas kelahiran seorang anak, syukur atas lainnya. Orang Katolik jangan segan-segan mengundang pastor untuk merayakan syukur dalam Ekaristi di rumahnya.

Ekaristi Kudus adalah Sakramen saat Yesus Kristus memberikan tubuh dan Darah-Nya sendiri untuk kita sehingga dalam kasih kita juga akan menyerahkan diri kepada-Nya dan bersatu dengan Dia dalam komuni kudus. Dengan cara ini, kita bergabung menjadi satu dalam Tubuh Kristus yaitu Gereja.

Setelah Baptis dan Penguatan, Ekaristi adalah sakramen inisiasi ketiga dalam Gereja Katolik. Ekaristi menjadi pusat misteri dari semua sakramen, karena pengorbanan Yesus di kayu salib yang bersejarah itu hadir dalam kata-kata konsekrasi dengan cara tersembunyi dan tak berdarah. Dengan demikian, perayaan Ekaristi menjadi “sumber dan puncak hidup iman Kristen” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 11). Segala sesuatu mengarah pada Ekaristi. Selain itu, tidak ada yang lebih besar yang bisa didapatkan. Ketika kita menyantap Hosti Kudus, kita bersatu dengan cinta Yesus, yang telah menyerahkan Tubuh-Nya di kayu salib. Ketika kita minum dari piala yang sama, kita bersatu dengan Dia yang sudah mencurahkan Darah, lambang cinta-Nya bagi kita. Bukan kita yang membuat upacara Ekaristi ini. Yesus sendirilah yang menyelenggarakan Perjamuan Terakhir dengan para murid-Nya, sebelum kematian-Nya: Ia menyerahkan diri-Nya kepada para murid dalam rupa roti dan anggur dan memerintahkan mereka untuk terus merayakan Ekaristi, bahkan setelah kematian-Nya. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1Kor 11:24).

Kristus menetapkan Ekaristi Kudus pada malam sebelum wafat-Nya, “pada malam ketika Ia dikhianati” (1Kor 11:23), ketika Ia berkumpul bersama para murid-Nya disebuah ruang atas di Kota Yerusalem dan merayakan Perjamuan Malam Terakhir bersama mereka.  Hal ini dapat kita ketahui dalam kutipan Kitab Suci dari surat Rasul Paulus. Sebab apa yang kuteruskan kepadamu, telah kuterima dari Tuhan, yaitu Tuhan Yesus pada malam Ia dikhianati, Ia mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya, Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata,’Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh Darah-Ku: perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku. (1Kor 11: 23-25).

Kalimat diatas adalah kalimat pertama dalam penetapan Ekaristi yang menunjukkan peristiwa di ruang atas saat Perjamuan Malam Terakhir. Paulus tidak menyaksikan peristiwa itu secara langsung, namun menerimanya dari para saksi mata. Jemaat Perdana meneruskan tradisi Ekaristi tersebut sebagai misteri suci dan selalu dirayakan dari hari ke hari dalam liturgi.

Perayaan Ekaristi itu sangat penting dalam gereja karena perayaan Ekaristi adalah jantung persekutuan umat Kristen. Dalam Ekaristi Gereja mendapatkan makna terdalam. Kita menjadi Gereja bukan semata-mata karena kita bergaul dengan baik, atau karena kita kebetulan berasal dari komunitas paroki yang sama, melainkan karena dalam Ekaristi kita menerima tubuh dan karenanya semakin disatukan dalam Tubuh Kristus. Itulah sebabnya mengapa semua sakramen harus dirayakan dalam Ekaristi.

Ada beberapa sebutan yang sering dikatakan untuk perjamuan Yesus. Sebutan yang berbeda-beda menandakan bahwa kekayaan misteri ini tiada terkira: Kurban Kudus, Misa Kudus, Perjamuan Tuhan, Pemecahan Roti, Perjamuan Ekaristi, kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, Liturgi yang Kudus dan Ilahi, Misteri Suci, Komuni Kudus.

Kurban Kudus, Misa Kudus, Kurban Misa, mempunyai arti bahwa pengorbanan Kristus yang menyempurnakan dan melampaui semua kurban, dihadirkan dalam perayaan Ekaristi. Gereja dan umat, dengan persembahan diri mereka, mempersatukan diri dengan pengorbanan Kristus.

Perjamuan Tuhan mempunyai arti setiap perayaan Ekaristi adalah perayaan perjamuan Kristus bersama dengan para murid. Perayaan ini juga merupakan antisipasi perjamuan surgawi, yakni bahwa Tuhan akan merayakan perjamuan abadi pada akhir zaman bersama umat yang sudah ditebus-Nya. Kita manusia bukanlah penyelenggara Ekaristi, melainkan Allah sendiri yang memanggil kita untuk beribadah kepada-Nya dan yang hadir secara misteri dalam liturgi.

Pemecahan Roti artinya tradisi makan bersama bangsa Yahudi Kuno. Yesus melakukannya pada saat Perjamuan Terakhir sebagai ungkapan penyerahan Diri-Nya (Rom 8:23). Dalam” pemecahan roti”, para rasul mengenang kembali Yesus setelah kebangkitan-Nya. Jemaat Perdana menyebut perayaan Ekaristi sebagai liturgi”pemecahan roti”. Perjamuan Ekaristi artinya Perayaan Perjamuan Malam Terakhir adalah sebuah perjamuan “ucapan syukur” saat Gereja secara kasatmata mengungkapkan dirinya.

Kenangan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus artinya adalah dalam Perayaan Ekaristi, umat tidak merayakan diri mereka sendiri, tetapi merayakan lagi kehadiran penyelamat Kristus yang Ia lakukan melalui penderitaan dan kematian-Nya menuju kehidupan. Liturgi Kudus dan Ilahi, Misteri Suci artinya adalah dalam perayaan Ekaristi, Gereja Baik di surga maupun di bumi bersatu dalam perjamuan yang satu dan sama. Kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi merupakan hal yang paling suci di dunia sehingga kita juga berbicara tentang sakramen Mahakudus. Komuni Kudus artinya diri kita bersatu dengan Kristus dalam Misa Kudus, dan melalui Dia kita bersekutu maka kita bicara tentang Komuni Kudus (communio= kebersamaan, paguyuban).

Dalam Ekaristi ada unsur-unsur penting yang harus kita ketahui. Setiap perayaan Ekaristi terdiri atas dua bagian utama, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dalam liturgi Sabda, kita mendengarkan bacaan dari Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Injil. Selain itu, ada kesempatan untuk mendengarkan homili/Khotbah, lalu doa permohonan umat. Berikutnya, dalam liturgi Ekaristi, roti dan anggur disiapkan, diberkati, dikuduskan dalam konsekrasi kemudian dibagikan kepada umat dalam komuni.

  1. BERBAGI PENGALAMAN AKAN YESUS

Pemimpin mengarahkan peserta masuk dalam kelompok-kelompok kecil (4-6 orang atau sesuai kebutuhan) untuk sharing pengalaman iman dan hidup sesuai dengan tema dan katekese yang baru didengar dengan bertitik tolak dari pertanyaan-pertanyaan panduan ini:

  1. Seberapa seringkah kamu menerima sakramen ekaristi?
  2. Apakah yang kamu rasakan ketika menerima sakramen ekaristi?

Setelah peserta selesai sharing (20-30 menit), kemudian pemimpin menyampaikan rangkuman sesuai hasil diskusi. Namun di bawah ini tercantum tawaran rangkuman untuk disampaikan jika dirasa cocok:

Kesimpulan:

  • Sebagai umat beriman kita diwajibkan untuk selalu mengikuti perayaan Ekaristi. Setidaknya wajib merayakan hari Minggu. Karena tak seorangpun dapat menghidupi hubungan dengan Kristus tanpa pergi ke tempat di mana Dia menanti.
  • Yesus sendiri yang memulai dan menetapkan perayaan Ekaristi dengan para muridNya sebelum Dia wafat. Yesus menyerahkan DiriNya kepada murid dalam rupa roti dan anggur dan memerintahkan mereka untuk terus merayakan Ekaristi bahkan setelah kematianNya dengan berkata “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Dalam Ekaristi kita menjadi satu dengan Allah seperti makanan dengan tubuh. Seperti kata St. Teresa dari Kalkuta, Ekaristi juga berisi kepuasan akan kelaparan terhadap Kristus. Maka Dia berkata, “Datanglah pada-Ku….”
  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

OMK bertemu dengan Yesus melalui sabda-Nya dan yang diperdalam dengan renungan. Menanggapi kehadiran Tuhan OMK menyampaikan doa-doa permohonan.

P          Tuhan Beserta Kita

U         Sekarang dan Selama-lamanya

P          Pembacaan dari Surat I Santo Paulus kepada Jemaat di Korintus: 1 Kor 11:23-29

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.

Renungan

Isi Kitab Suci diterangkan sesederhana mungkin agar dapat ditangkap oleh para peserta

Kristus Hadir Dalam Ekaristi

Pernahkah anda mendengar komentar bahwa Ekaristi itu hanya ‘karangan’ Gereja Katolik? Atau bahwa Kristus tak sungguh-sungguh hadir dalam Ekaristi? Atau beberapa orang mengklaim bahwa mereka kembali ke pengajaran yang murni dari para rasul untuk memperbaharui iman Kristen? Jika kita mendengar komentar-komentar semacam ini, tak usah kita menjadi resah. Sebab jika mereka dengan sungguh- sungguh tulus mempelajari Kitab Suci, dan dengan konsisten mempelajari sejarah dan tulisan para Bapa Gereja, seharusnya mereka tak bisa berdalih, sebab semua itu malah semakin memberikan bukti yang kuat terhadap kemurnian ajaran Gereja Katolik. Ya, salah satu yang terpenting di antaranya adalah kehadiran Yesus dalam Ekaristi (the Real Presence of Jesus in the Eucharist). Dasar sejarah yang pertama akan kehadiran Kristus di dalam Ekaristi adalah perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kepada para Rasul di Perjamuan Terakhir, “Inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu…. Inilah Darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang …. perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku….” (lih. Luk 22:19-20). Perjamuan inilah yang dirayakan oleh para rasul dan jemaat perdana (lih. Kis 2:41); dan seterusnya dilakukan oleh Gereja Katolik sampai saat ini. Hal kehadiran Yesus secara nyata dalam perayaan Ekaristi dapat kita ketahui dari tulisan- tulisan para Bapa Gereja, yang menerima pengajaran tersebut dari para Rasul.

Doktrin Ekaristi (kehadiran Kristus yang nyata di dalamnya karena Transubstansiasi) yang diajarkan oleh Gereja Katolik mempunyai dasar yang teguh, sebab telah berakar dari Tradisi para rasul dan para Bapa Gereja. Jika pengertian kita tidak demikian, maka itu sama saja kita menilai bahwa para rasul dan para Bapa Gereja dan seluruh Gereja itu selama berabad- abad telah ‘salah pengertian’. Mungkin inilah yang ada di pikiran para Reformer seperti Luther, Calvin, Zwingli, dst. Tetapi akibatnya, begitu mereka menginterpretasikan sendiri ayat Alkitab dan beberapa perkataan Bapa Gereja tanpa melihat konteksnya, maka akhirnya mereka bertentangan sendiri, karena memegang pengertian yang berbeda-beda. Ironinya, mereka sama-sama meng-klaim bahwa mereka mengartikan ayat Alkitab yang sama, yaitu perkataan Yesus, “Inilah Tubuh-Ku…” Mari kita berhenti sejenak, dan merenungkan ayat tersebut. Biarlah dengan kesederhanaan iman dan kerendahan hati, kita dapat percaya dan mengimani, bahwa memang Kristuslah yang mengubah apa yang nampak sebagai roti itu menjadi sungguh-sungguh Tubuh-Nya sendiri, sehingga yang dipegang-Nya itu bukan roti lagi, walaupun rupanya tetap roti. Kuasa mengubah roti menjadi anggur ini tidak diberikan kepada semua orang, tetapi hanya kepada para rasul-Nya, yang kemudian diteruskan kepada para penerus mereka, yaitu, para imam-Nya melalui tahbisan suci. Dengan demikian Ekaristi juga berkaitan dengan Tahbisan Suci. Tangan-tangan yang telah diurapilah yang diberi kuasa Roh Kudus untuk bertindak atas nama Kristus, untuk melakukan mukjizat yang sangat agung ini.

Karena betapa agungnya makna persatuan kita dengan Kristus dalam Komuni kudus, maka sebelum menyambut-Nya kita harus mempersiapkan diri. Betapa dalamnya makna persatuan itu, sehingga harus merupakan kesatuan total: yaitu kesatuan dengan keseluruhan Tubuh Mistik Kristus yang ada di dalam Gereja Katolik di bawah pimpinan pengganti Rasul Petrus. Inilah sebabnya tidak sembarang orang dapat menyambut Tubuh Kristus, walaupun ia mengimani bahwa roti itu sungguh telah diubah menjadi Tubuh-Nya. Sebab masih ada makna lagi yang harus diimani, yaitu apakah ia mengimani Gereja Kristus yang ada dalam Gereja Katolik yang didirikan di atas Petrus (Mat 16:18).

Kita sebagai orang Katolik sepantasnya bersyukur, bahwa kita memiliki Magisterium, (Magisterium dipegang oleh Bapa Paus sebagai penerus Rasul Petrus dan para Uskup pembantunya yang dalam kesatuan dengan dia) yang dengan setia meneruskan pengajaran Kristus yang otentik, terutama untuk pengajaran tentang Ekaristi ini. Kristus telah mengetahui, bahwa tanpa jaminan ‘tak mungkin salah’ (infallibility) yang diberikan kepada pemimpin Gereja-Nya, maka manusia cenderung mengartikan sendiri pengajaran-Nya yang dapat mengakibatkan perpecahan umat. Maka, Kristus memberikan kuasa ‘tidak mungkin salah’ (infallibility; Menurut Lumen Gentium 25, Kuasa ‘tidak mungkin salah’, yang diberikan Yesus kepada Bapa Paus ini hanya berkenaan dengan pengajaran Bapa Paus secara definitive mengenai hal iman dan moral.) kepada Bapa Paus agar pengajaranNya dapat dilestarikan dengan murni. Inilah sebabnya, kita dapat dengan teguh mengimani doktrin Ekaristi, sebab kita yakin itu berasal dari Kristus sendiri. Selanjutnya, mari kita berdoa agar semakin hari kita semakin dapat menghayati kedalaman misteri kasih Tuhan yang dinyatakan melalui kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Ekaristi merupakan cara Allah mengasihi kita. Sekarang tergantung kita, maukah kita belajar memahami dan menghayati cara Tuhan mengasihi kita, ataukah kita lebih memilih cara kita sendiri untuk merasakan kasih Tuhan?

Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:

  1. Bagi Paus, Para Uskup dan Imam pemimpin perayaan Ekaristi….

Kami mohon.

  1. Bagi OMK yang malas hadir ke gereja

Kami mohon.

  1. Bagi para umat yang merindukan pelayanan sakramen ekaristi….

Kami mohon.

  1. Bagi kita yang berkumpul disini….

Kami mohon.

P. Marilah kita persatukan segala doa-doa permohonan kita dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri kepada kita.

P+U.    Bapa Kami….

  1. MENYATAKAN YESUS

Pengenalan dan pertemuan dengan Yesus dalam doa harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan nyata apa yang harus dilakukan sesudah kebaktian ini? Untuk itu disediakan waktu hening (bermenung) sekitar 5 menit untuk meneguhkan niat-niat. Musik yang menunjang permenungan bisa diputar. Pemimpin (jika cocok) bisa juga menawarkan aksi-aksi nyata yang aplikatif dari pertemuan misalnya:

P. Saudara-i muda marilah kita hening sejenak mencari dan menentukan hal praktis yang harus kita praktekkan dalam kehidupan kita sebagai aplikasi dari perayaan iman ini.

Hening….

Usul aksi nyata:

  1. Semakin rajin ke gereja dan merayakan sakramen ekaristi.
  2. Hormat kepada tubuh dan darah Kristus.

Doa Penutup

P          Marilah berdoa,

            Ya, Bapa, ajarlah kami untuk selalu bersatu dengan-Mu dalan komuni kudus, di mana Kristus hadir membawa keselamatan bagi kami. Semoga tiap-tiap hari kami semakij bertambah dalam iman dan rahmatMu. Demi Kristus ,Tuhan dan Pengantara kami.

PU       Amin.

Seruan Penutup

P          Datanglah Roh Maha Kudus bentara cinta Sang Kristus.

U         Tolong kami jadi saksi membawa cinta ilahi.

Perutusan

Semua membuat tanda salib untuk dirinya sendiri, kecuali jika pemimpin adalah imam.

P          Tuhan beserta kita.

U         Sekarang dan selama-lamanya.

P          Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U         Amin.

Nyanyian Penutup

Diusahakan lagu yang sesuai misalnya: Syukur atau Pujian.

Hati s’bagai hamba

Ku tak membawa apapun juga saat ku datang ke dunia

ku tinggal semua pada akhirnya saat ku kembali ke surga

Reff:

Inilah yang ku punya

hati s’bagai hamba yang mau taat dan setia pada-Mu Bapa

Kemanapun kubawa hati yang menyembah

dalam roh dan kebenaran sampai s’lamanya

Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *