Doa & Ngopi OMK KAM : Pekan III September 2019

SAKRAMEN PERSEKUTUAN DAN PERUTUSAN

Persiapan Perayaan

  • Pemimpin (P): Bisa pembina OMK, pendamping OMK atau OMK sendiri. Pemimpin memberitahukan secara singkat jalannya perayaan dan menghunjuk petugas-petugas yang perlu.
  • Pembawa doa permohonan. Sebelum ibadat, para pembawa doa sudah menentukan siapa yang akan didoakan. Doa dibawakan secara spontan.
  • Kelompok diskusi: peserta sudah dibagi menjadi beberapa kelompok.
  • Pembawa nyanyian: seseorang yang bisa.
  • Salib, lilin dan copyan teks ibadat.
  • Tempat pengumpulan kolekte. Kolekte dilaksanakan pada nyanyian penutup.

Nyanyian Pembuka

PS No. 333 – Sungguhlah Indah RumahMu

  1. Sungguhlah indah rumahMu Tuhan, Raja alam raya. Burung pipit serta layang-layang diKau beri sarang. Alangkah ‘ku rindu tinggal dirumahMu Tuhan, sorak dan sorai bagiMu
  2. Bahagialah yang senantiasa datang kerumahMu. Lembah tangis mengalirkan rahmat kar’na kuasaMu. Langkah makin gagah tiada pernah lelah, Tuhan menyambut datangnya.
  3. Tuhan dengarkanlah doa kami, pandang niat kami. Kami rela menanti saatnya masuk kerumahMu. Dikaulah bentengku, Allah perisaiku, kami percaya selalu.

Seruan Pembukaan

P. Datanglah ya Roh Kudus penuhi hati umatMu.

U. Dan nyalakanlah di dalamnya api cintaMu.

Hening sejenak …. 

Tanda Salib & Salam

P. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U. Amin

P. Tuhan berserta kita

U. Sekarang dan selama-lamanya

Pemeriksaan Batin

P. Sahabat-sahabat OMK yang baik, dalam hidup ini kita tidak luput dari dosa, kesalahan dan kelalaian, maka marilah kita mengakuinya di hadapan Allah dan sesama agar kita layak untuk mengikuti ibadat ini.

Hening….

P. Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami untuk mengenal dan mencintaiMu.

Tuhan Kasihanilah kami.

U. Tuhan Kasihanilah kami.

P. Tuhan Yesus Kristus, kami sering putus asa dalam usaha mencari Engkau namun Engkau datang mendekati kami. Kristus Kasihanilah kami.

U. Kristus Kasihanilah kami.

P. Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Putera Bapa yang diutus untuk menyelamatkan kami. Tuhan Kasihanilah kami.

U. Tuhan Kasihanilah kami.

Absolusi

P. Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U. Amin.

Doa Pembukaan

P. Marilah berdoa, Ya Bapa yang Mahapengasih, kami bersyukur karena cintaMu yang Engkau anugerahkan ke dalam hidup kami. Kami mohon hadirlah bersama kami dalam kegiatan ini, terangilah hati dan budi kami agar mampu memahami panggilanMu dalam pelayanan hidup berkeluarga. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan meraja bersama Dikau, dalam kesatuan dengan Roh Kudus, Allah kini dan sepanjang masa.

U. Amin.

  1. MENGENAL YESUS

Memaparkan rangkuman khazanah iman dari Youcat No. 260-266 (271)

Sakramen Perkawinan

Tahbisan dan Perkawinan, diarahkan kepada keselamatan orang lain. Oleh pelayanan kepada orang lain mereka juga memberi sumbangan untuk keselamatan diri sendiri. Mereka memberikan satu perutusan khusus di dalam Gereja dan berguna untuk pembangunan umat Allah. Dalam Sakramen-sakramen ini orang-orang, yang oleh Pembaptisan dan Penguatan telah ditahbiskan dalam imamat bersama seluruh umat beriman (bdk. Yoh 13:1), dapat menerima tahbisan-tahbisan khusus. Barang siapa menerima Sakramen Tahbisan, ditahbiskan “untuk menggembalakan Gereja dengan Sabda dan rahmat Allah” (LG 11). Juga pasangan suami isteri Kristen “dikuatkan dan bagaikan ditahbiskan untuk tugas kewajiban maupun martabat status hidup mereka dengan Sakramen yang khas” (GS 48,2). Dengan Sakramen perkawinan, seluruh pasangan Kristiani mengungkapkan, dalam tanda, keikutsertaan mereka pada misteri kesatuan dan cinta mesra yang terjadi antara Kristus dengan GerejaNya. Maka, Persiapan perkawinan adalah penting dan fundamental bagi siapa saja yang berkeinginan melangsungkan pernikahan di hadapan Tuhan di dalam GerejaNya.

“Perjanjian Perkawinan, dengan mana pria dan wanita membentuk antar mereka kebersamaan seluruh hidup, dari sifat kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta pada kelahiran dan pendidikan anak; oleh Kristus Tuhan Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat Sakramen” (Kan. can. 1055, 1).

  1. Perkawinan Dalam Kitab Suci

Kitab Suci memberikan dasar atau landasan untuk menggali lebih dalam maksud dan tujuan dari Sakramen perkawinan. Dua teks pokok dalam Perjanjian Lama yang menjadi rujukan untuk membicarakan hubungan laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan adalah Kej 1:26-28 dan Kej 2:18-25. Dalam Kej 1:26-28 disebutkan bahwa hakekat sebuah perkawinan adalah kesatuan antara seorang pria dan wanita berdasarkan cinta dan dipersatukan oleh Allah sendiri. Dari situ kita dapat memahami bahwa perkawinan yang dikehendaki Allah ialah monogamy, seorang pria dan seorang wanita membentuk satu keluarga.  Suami-istri kemudian mendapat tugas bersama untuk beranak-cucu serta menguasai dan memelihara dunia sesuai dengan maksud Allah sejak awal dunia diciptakan.

Kej 2:18-25 memberi tekanan pada kesatuan hidup suami dan istri dalam ikatan perkawinan. “tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (ay. 18a). Mengapa tidak baik seorang diri? Bila manusia sendirian dia akan kesepian, sedih, tidak ada teman berelasi, dan akan binasa jika tidak ada keturunan. “Karena itu aku akan menjadikan penolong baginya” (ay. 18b). Manusia diciptakan untuk dialog, karena itu Allah menciptakan teman “yang sepadan dengannya” (ay.18c).[1] Manusia membutuhkan seorang penolong yakni penolong yang sepadan dengan dirinya. Bagi seorang suami isteri adalah penolongnya dan sebaliknya. Pasangan disebut penolong yang sepadan karena pasangan menghilangkan kesedihan, kecemasan, menjadi teman curhat, teman berelasi dan dapat hidup terus-menerus lewat keturunan mereka (tidak binasa).

Penolong itu adalah anugerah Allah yang amat besar. Kita tidak tahu apa-apa tentang penolong kita itu, mengapa Allah mempertemukan si A da si B, si C dan si D. Kita tidak tahu sebab itu rahasia Allah bagi setiap pasangan. Kitab suci menggambarkannya, “lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tidur nyenyak….” (Kej 2:23-23). Saat tidur nyenyak adalah pertanda kita tidak tahu apa-apa tentang itu, hanya Allah yang tahu. Pastinya penolong itu sangat penting. Karena begitu penting seorang laki-laki rela meninggalkan hal yang penting baginya (ayah dan ibunya keluarga asalnya [bdk. Kej 2:24]) untuk bersatu dengan penolongnya (cintanya) dan mereka membentuk keluarga yang baru bagi kerajaan Allah.

Dalam Perjanjian Lama, para nabi melukiskan perjanjian Allah dengan Israel dengan gambar cinta Perkawinan yang eksklusif dan setia (bdk. Hos 1-3; Yes 54; 62; Yer 2-3; 31; Yeh 16; 23), dan dengan demikian membawa keyakinan umat terpilih ke suatu pengertian yang lebih dalam mengenai ketunggalan dan ketakterceraian Perkawinan (bdk. Mal 2:13-17). Kitab Rut dan Tobit menampilkan contoh yang mengharukan mengenai pandangan mulia tentang Perkawinan, tentang persatuan yang setia dan mesra antara suami isteri. Tradisi selalu melihat di dalam Kidung Agting satu pernyataan bagus mengenai cinta manusiawi sebagai pancaran murni cinta Allah, satu cinta yang “kuat seperti maut” dan “juga air yang banyak… tidak dapat memadamkannya” (Kid 8:6-7).

           Perjanjian Baru mengungkapkan makna luhur dari perkawinan. Yesus sendiri sangat menghargai perkawinan dan menolak perceraian. Bagi Yesus, kesetiaan mutlak itu adalah hakikat perkawinan sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Injil Matius mengungkapkan ajaran Yesus melalui Sabda-Nya, “Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat 19.8). Hal ini semakin menegaskan bahwa sejak semula kesetiaan yang tak terputuskan merupakan esensi hidup perkawinan.

Kesepakatan Nikah (Konsensus)

Perjanjian Perkawinan diikat oleh seorang pria dan seorang wanita yang telah dibaptis dan bebas untuk mengadakan Perkawinan dan yang menyampaikan kesepakatannya dengan sukarela. “Bebas” berarti:

  • tidak berada di bawah paksaan;
  • tidak dihalang-halangi oleh hukum kodrat atau Gereja.
  • “Perkawinan itu terjadi” melalui penyampaian kesepakatan (CIC, can. 1057, 1).

Kalau kesepakatan tidak ada, Perkawinan tidak jadi. Kesepakatan itu merupakan “tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan isteri” (GS 48,1, bdk.ClC, can. 1057, 2). “Saya menerima engkau sebagai isteri saya”; “saya menerima engkau sebagai suami saya”. Kesepakatan yang mengikat para mempelai satu sama lain diwujudkan demikian, bahwa “keduanya menjadi satu daging” (bdk. Kej 2:24; Mrk 10:8; Ef 5:31). Kesepakatan harus merupakan kegiatan kehendak dari setiap pihak yang mengadakan perjanjian dan bebas dari paksaan atau rasa takut yang hebat, yang datang dari luar (bdk.CIC, can. 1103). Tidak ada satu kekuasaan manusiawi dapat menggantikan kesepakatan. (bdk. CIC, can. 1057, 1). Kalau kebebasan ini tidak ada, maka Perkawinan pun tidak sah.

Karena alasan ini (atau karena alasan-alasan lain yang membuat Perkawinan tidak terjadi) (bdk. CIC, cann. 1095-1107), Gereja, setelah masalah ini diperiksa oleh pengadilan Gereja yang berwewenang, dapat menyatakan Perkawinan itu tidak sah, artinya menjelaskan bahwa Perkawinan itu tidak pernah ada. Dalam hal ini kedua pihak bebas lagi untuk kawin; mereka hanya harus menepati kewajiban-kewajiban kodrati, yang muncul dari hubungan yang terdahulu. (bdk. CIC, can. 1071).

Imam atau diakon yang bertugas dalam upacara Perkawinan, menerima kesepakatan kedua mempelai atas nama Gereja dan memberi berkat Gereja. Kehadiran pejabat Gereja dan saksi-saksi Perkawinan menyatakan dengan jelas bahwa Perkawinan adalah satu bentuk kehidupan Gereja. Karena alasan ini Gereja biasanya menuntut dari umat berimannya, bahwa mereka mengikat Perkawinan dalam bentuk Gereja (bdk. Konsili Trente: DS 1813-1816; CIC, can. 1108).

  1. BERBAGI PENGALAMAN AKAN YESUS

Pemimpin mengarahkan peserta masuk dalam kelompok-kelompok kecil (4-6 orang atau sesuai kebutuhan) untuk sharing pangalaman iman dan hidup sesuai dengan tema dan katekese yang baru didengar dengan bertitik tolak dari pertanyaan-pertanyaan panduan ini:

  • Siapakah di antara kamu yang sesudah dewasa akan menikah?
  • Menurut pengamatanmu dalam keluarga ayah-ibu di rumah; seperti apakah orang yang menikah itu?
  • Mengapa perlu menerima Sakramen perkawinan jika orang hendak berkeluarga?

Setelah peserta selesai sharing (20-30 menit), kemudian pemimpin menyampaikan rangkuman:

Perkawinan sakramental adalah satu kegiatan liturgi. Karena itu pantas bahwa ia dirayakan dalam liturgi resmi Gereja. Perkawinan mengantar masuk ke dalam suatu status Gereja; ia menciptakan hak dan kewajiban antara suami isteri dan terhadap anak-anak di dalam Gereja. Karena Perkawinan adalah status hidup di dalam Gereja, harus ada kepastian mengenai peresmian Perkawinan. Karena itu kehadiran para saksi sungguh mutlak perlu. Sifat publik dari kesepakatan melindungi perkataan Ya yang pernah diberikan dan membantu agar setia kepadanya. Maka, kita OMK, sebagai orang katolik harus menikah di gereja katolik.

  1. BERJUMPA DENGAN YESUS

OMK bertemu dengan Yesus melalui Sabda-Nya dan yang diperdalam dengan renungan. Menanggapi kehadiran Tuhan OMK menyampaikan doa-doa permohonan.

P. Tuhan Beserta Kita.

U. Sekarang dan Selama-lamanya.

P. Inilah Injil Tuhan kita Yesus Kristus menurut Santo Matius (Mat 1:3-6).

U. Dimuliakanlah Tuhan.

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan Sabda-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

P. Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Yang Dipersatukan Allah

Tidak Dapat Diceraikan Oleh Manusia

Seorang ibu sambil terisak bertanya kepada seorang katekis, “bolehkan bercerai di Gereja kita?” Katekis terkejut mendengar pertanyaan si ibu tadi, bukan karena apa-apa, yang Katekis tahu si ibu itu adalah orang yang sangat rajin menggereja, baik, dan juga selama ini semuanya terlihat baik-baik saja di dalam keluarga mereka. Dengan singkat Katekis menjawab apapun alasannya, tidak ada satupun yang bisa menceraikan orang yang sudah dipersatukan oleh Allah (kecuali kematian).

Orang sekitar Yesus menanyakan hal hal yang sama kepadaNya, “Bolehkah bercerai dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus, “Tidak, karena manusia diciptakan laki-laki dan perempuan untuk menjadi satu, tidak lagi dua, dipersatukan Allah maka tidak boleh diceraikan manusia”. Karena sebuah pernikahan itu dipersatukan Allah, maka hanya Allahlah yang bisa menceraikannya. Perkawinan itu urusan Tuhan, bukan manusia semata. Seseorang lepas dari ikatan perkawinannya jika salah satu pasangannya meninggal dunia. Dan jika ada manusia berani menceraikan pasangannya tanpa seizin Allah berarti dia mengambil wewenang  Allah.

Bagaimana agar sebuah hubungan kekeluargaan, persahabatan atau apa saja tetap langgeng dan sesuai dengan kehendak Allah. Pertama, mengikuti Sabda Allah dalam Kitab Suci. Untuk kasus perkawinan misalnya agar tidak mengabaikan Sabda Allah di atas yang jelas-jelas mengatakan tidak ada perceraian. Manusia sekarang kurang takut akan Allah. Seharusnya manusia harus takut akan Allah, takut jika tidak menuruti SabdaNya.

Kedua, setia seperti Tuhan sendiri setia adanya. Secara umum Kitab Suci menggambarkan kesetiaan Allah kepada Manusia. Allah menuntut agar manusia setia mencintaiNya dan sesamanya. Manusia juga harus setia terhadap kata-kata  yang diucapkannya. Sebab kesetiaan pada pilihan adalah sumber kebahagiaan. Walaupun harus menderita mempertahankannya.

Ketiga, berkomitmen teguh, pada apa yang sudah dipilih memang tidak mudah. Tetapi integritas seseorang sangat ditentukan dari keteguhannya kepada komitmennya. Orang-orang berkomitmen akan selalu berjuang mempertahankan kebaikan-kebaikan yang ada.

Perkawinan itu bertujuan:

  1. Mengabadikan cinta yang sudah lama dipelihara/dipupuk.
  2. Untuk pemenuhan kebutuhan biologis yang terbuka terhadap kelahiran anak.
  3. Demi kebahagiaan suami-istri

Mengingat tujuan perkawinan di atas, maka masa pacaran menjadi masa yang menentukan. Tiap orang harus belajar tentang semua hal mengenai hidup pasangannya. Secara sadar dan dilandasi cinta mendalam memutuskan untuk hidup bersama. Di samping itu, setiap orang yang hendak menikah harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang hidup berkeluarga. Masalahnya, orang muda sering tergesa menikah tanpa pengetahuan. Bukan tidak ada kursus perkawinan bahkan kursus panjang ada tersedia. Orang muda tidak tertarik dengan hal rohani, masalahnya seputar itu. Sebab de facto perceraian banyak terjadi karena pihak ketiga (termasuk keluarga asal) atau karena masalah sepele. Padahal mereka adalah keluarga baru yang harus punya konsep sendiri dan sadar punya tanggungjawab sendiri kepada Tuhan atas keluarga yang mereka bentuk.

Saudara muda yang terkasih, kita semua sedang membina diri. Kita tentu bermimpi menjadi orang yang mencintai Sabda Tuhan, menjadi orang yang setia dan berkomitmen. Semua hal ini tidak mudah dicapai tetapi tidak mustahil. Mari belajar menuruti setiap kehendak Allah di dalam kehidupan kita. Untuk orang muda seperti kalian kiranya nasihat ini akan sangat berguna, “manis jangan cepat ditelan siapa tahu itu racun, pahit jangan cepat dimuntahkan siapa tahu itu obat manjur.” Bagaimanpun hidup keluarga kita nanti kita serahkan kepada Tuhan sebab cerai bukanlah jalan aman menuju kebahagiaan. Barangsiapa tahan uji dia akan bahagia. Perkawinan itu sehidup semati yang setia di dalamnya akan bahagia.

Doa Permohonan

Pemimpin mempersilahkan para pembawa doa permohonan untuk membawakan doa secara spontan, dengan mengantar terlebih dahulu sbb:

P. Sahabat-sahabat OMK yang terkasih, sekarang marilah kita menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Allah:

  1. Bagi Keluarga-keluarga Katolik

            …. Kami mohon.

  1. Bagi mereka yang sedang mencari jodoh.

            …. Kami mohon.

  1. Bagi Keluarga yang sedang terombang-ambing.

            …. Kami mohon.

  1. Bagi kita semua di sini.

            …. Kami mohon.

P. Marilah kita persatukan segala doa-doa permohonan kita dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri kepada kita.

P+U    Bapa Kami….

  1. MENYATAKAN YESUS

Pengenalan dan pertemuan dengan Yesus dalam doa harus diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan nyata apa yang harus dilakukan sesudah kebaktian ini? Untuk itu disediakan waktu hening (bermenung) sekitar 5 menit untuk meneguhkan niat-niat. Musik yang menunjang permenungan bisa diputar. Pemimpin (jika cocok) bisa juga menawarkan aksi-aksi nyata yang aplikatif dari pertemuan misalnya:

P. Saudara-i muda marilah kita hening sejenak mencari dan menentukan hal praktis yang harus kita praktekkan dalam kehidupan kita sebagai aplikasi dari perayaan iman malam ini.

Hening…. 

Usul aksi nyata:

  • OMK berkomitmen untuk saling menghormati antara laki-laki dan perempuan.
  • OMK berkomitmen setia terhadap pasangan bagi mereka yang telah memiliki pasangan.

Doa Penutup

P. Marilah berdoa, Allah yang berbelaskasih, kami mengucap bersyukur karena Engkau telah menetapkan Sakramen perkawinan bagi umatMu sebagai sarana untuk melibatkan suami-istri dalam karya penciptaan-Mu. Engkau telah menguduskan suami istri dalam perkawinan dan menjadikanya Sakramen cinta Kristus kepada jemaat. Bantulah mereka agar selalu setia satu sama lain; bersikap jujur dan terbuka demi keutuhan keluarga, dan mampu saling mengampuni. Demi Yesus kristus putra-Mu yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.

U. Amin.

Seruan Penutup

PDatanglah Roh Maha Kudus bentara cinta Sang Kristus.
U. Tolong kami jadi saksi membawa cinta ilahi.

Perutusan

Semua membuat tanda salib untuk dirinya sendiri, kecuali jika pemimpin adalah imam.

P. Tuhan beserta kita.

U. Sekarang dan selama-lamanya.

P. Kita semua diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

U. Amin.

Nyanyian Penutup

Kesempatan untuk mengumpulkan persembahan.

TULANG RUSUK

Terima kasih kuucapkan padaMu

Atas dia yang Kau berikan padaku

Sekian lamanya kuberdoa menunggu

Menanti-nanti janjiMu Tuhan

Reff:     Tulang rusuk yang lama hilang

Kini ku t’lah jadi pendampingmu

Tulang rusuk yang lama hilang

Kini ku t’lah jadi penolongmu

Kita berdua menjadi satu,

dalam kasihnya menjadi satu

Kita berdua menjadi satu,

melayani Tuhan selama-lamanya

Pengumuman

Memberitahukan waktu, tempat dan petugas pertemuan selanjutnya dan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan OMK setempat.

***

[1] Bruno Maggioni, Il Matrimonio nella Bibbia, dalam Nuova Enciclopedia del Matrimonio(Brescia:Editrice Queriniana, 1988), hlm  148-149

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *